Dalam
perjalanan sejarahnya, Bangsa Yahudi Israel –diakui atau tidak- sangat identik
dengan dua hal yaitu pertama, adalah konflik-konflik yang meliputi perjalanan
sejarah mereka, dan kedua, adalah kitab Talmud yang oleh mereka dianggap
sebagai karya teragung bangsa Yahudi. Untuk poin pertama, mungkin tidak akan
dijelaskan secara panjang lebar dalam tulisan ini mengingat begitu banyaknya
contoh konkret yang kiranya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa
memang Bangsa Yahudi Israel adalah bangsa yang begitu identik dengan berbagai
konflik –baik konflik secara horizontal maupun konflik vertikal-. Adapun yang
ingin penulis paparkan dalam tulisan ini tidak lain adalah mengenai kitab
Talmud, sebuah kitab yang oleh bangsa Yahudi Israel begitu diagungkan
keberadaannya.
Talmud,
bagi Bangsa Yahudi memang telah ditahbiskan untuk menjadi sebuah kitab yang
paling suci dan paling agung bagi mereka. Dan untuk menggambarkan betapa
agungnya Kitab Talmud ini, bahkan Rabbi Yahudi Israel kemudian seolah tidak
ragu untuk menyebut bahwa tiada satu kitab pun selainnya yang lebih suci dan
lebih agung melebihi kitab Talmud. Bahkan kesucian Talmud ini oleh bangsa
Yahudi dianggap jauh lebih tinggi dibandingkan Kitab Taurat yang notabenenya
diturunkan Tuhan kepada Musa a.s. untuk dijadikan sebbagai pegangan utama
bangsa Yahudi Dengan kata lain, Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam
penetapan hukum agama bagi bangsa Yahudi saja tetapi juga telah menjelma
menjadi ideologi, pandangan hidup dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi
penyusunan kebijakan negara dan pemerintah Yahudi Israel.
Maka
tidaklah mengherankan manakala Bangsa Yahudi Israel kemudian dicap sebagai
bangsa yang sangat dogmatik mengingat sikap mereka yang begitu tunduk terhadap
dogma-dogma yang berasal dari ajaran Talmud. Selain itu, Melalui talmud ini
para generasi bangsa Yahudi Israel pun seolah didoktrin untuk supaya mereka
yakin bahwa melalui Talmud, mereka kelak akan mendapatkan pula “makanan” yang
akan mengenyangkan ambisi mereka untuk menguasai dunia. Bahkan berawal dari
Talmud pula kemudian mereka menemukan inspirasi inspirasi pemikiran besar yang
kelak dapat merubah sejarah dunia.
Dan
berbicara mengenai keimanan bangsa Yahudi Israel terhadap kitab yang satu ini
maka jelas sekali bahwa memang tidak ada seorang pun di dunia ini yang
meragukan keimanan bangsa Yahudi Israel terhadap Talmud. Keimanan orang Yahudi
terhadap Kitab Talmud tersebut bahkan mampu mengatasi/melebihi keimanan mereka
terhadap Kitab Perjanjian Lama, yang dikenal dengan nama Taurat. Pernyataan
yang demikian ini jelas bukan pernyataan yang tanpa dasar karena di dalam
Talmud 'Erubin' edisi 2b (edisi Soncino), kaum Yahudi seolah di ingatkan bahwa
mereka hendaknya lebih mengutamakan fatwa Talmud daripada Taurat. "Wahai
anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud)
daripada ayat-ayat Taurat". Mengapa terjadi demikian?
Menurut
sejarawan Yahudi bernama DR. A. Fabian dalam sebuah bukunya berjudul The
Babylonian Talmud, hal tersebut terjadi lantaran adanya anggapan bahwa Kitab
Undang-Undang yang terbukti telah membuat Yahudi tetap eksis (baik sebagai
suatu agama maupun sebagai suatu bangsa) bukanlah Taurat yang merupakan kitab
tertulis yang diperuntukkan Tuhan kepada Musa, melainkan Talmud itu sendiri.
Tamud memang telah menjelma menjadi sebuah kitab yang memberikan Bangsa Yahudi
Israel sebuah ‘dunia’ yang terpisah dari dunia manusia pada umumnya yang oleh
karenanya kemudian seringkali kita lihat betapa Bangsa Yahudi Israel mengklaim
diri mereka sebagai bangsa pilihan.
Bahkan
seorang rabbi Yahudi bernama Rabbi Beshai dengan ekstrimnya pernah
memerintahkan bangsa Yahudi Israel untuk tidak menjalin kerjasama (atau bahkan
memusuhi) orang-orang yang tidak berpegang pada Talmud. Alasannya ialah bahwa
Talmud ini selain merupakan himpunan pendapat para Rabbi Yahudi tetapi juga
merupakan sebuah kitab yang memiliki kedudukan yang sejajar dengan syariat nabi
Musa. Adapun sebagian Rabbi Yahudi lainnya menilai Talmud sebagai kitab
undang-undang tertinggi Bangsa Yahudi Israel yang mana ketika terjadi
kontradiksi pendapat antara Talmud dan Taurat maka Talmudlah yang wajib untuk
didahulukan
Kandungan
dan Isi Kitab Talmud
Seperti
yang telah dikemukakan di atas, Talmud merupakan sebuah kitab undang-undang
yang berasal dari kumpulan-kumpulan fatwa para Rabbi Yahudi yang kemudian dalam
perkembangannya kitab tersebut kemudian tumbuh menjadi sumber kekuatan yang
luar biasa bagi kaum Yahudi Israel. Akan tetapi adalah sesuatu yang salah jika
ada seseorang yang menganggap bahwa Talmud merupakan sebuah kitab yang
berisikan hal-hal yang baik. Sebaliknya, menurut seorang sarjana Yahudi bernama
Joseph Barclay dikatakan bahwa yang terkandung dalam Talmud itu tak lain adalah
percampuran antara segala sesuatu yang berlebihan, menjijikkan dan bahkan
sesuatu yang sifatnya adalah menghina Tuhan.
Sebagai
contohnya disini penulis kemudian mengutip bunyi ayat dari kitab Erubin 2b
:"Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan
cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka". Dan
rasanya tanpa harus melakukan telaah lebih lanjut, pembaca pasti sepakat dengan
penulis bahwa ayat tersebut adalah sebuah ayat yang sangat menjijikkan.
Talmud
pun sebagai sebuah kitab suci anehnya bukan berfungsi sebagai pencegah kejahatan
tetapi justru melalui Talmudlah kaum Yahudi Israel kemudian mengenal betapa
perbuatan jahat adalah perbuatan yang ‘juga dianjurkan’ dalam agama sebagaimana
bunyi ayat Moed Kattan 17a, "Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk
melakukan sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota dimana ia
tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana”
Maka
sangatlah tidak mengherankan manakala sampai detik ini bangsa Yahudi Israel
selalu diidentikkan sebagai bangsa pemicu konflik dan perpecahan di seluruh
dunia (friction). Apalagi hal ini telah diingatkan oleh banyak ulama melalui
pameo yang mereka buat pada abad 13 yang intinya berisi sindiran terhadap
bangsa Yahudi Israel. “Bila disuatu tempat terjadi peristiwa besar dan
huru-hara, maka periksalah orang-orang Yahudi yang ada di sana, sebab niscaya
anda akan menemukan jawaban atas huru-hara itu.”
