Rabu, 15 Januari 2014

REALITA KEBERAGAMAAN: KRISTEN

a.  Kristus dan Perdebatan Teologi
Pada tahun 320 M. Mesir, Siria, dan Asia kecil menjadi tempat yang hangat dan bernuansa Polemik. Ketuhanan, dan Realitas Kemanusiaan dibicarakan oleh semua orang dari berbagai kalangan. Gereja, dan institusi pendidikan menjadi central pengkajian dan pemutusan perkara perdebatan. Arius, seorang pembaharu dizamannya melontarkan satu pertanyaan kepada sang guru. Ia menanyakan tentang: Apakah Yesus adalah Tuhan?, atau ia hanya seorang manusia biasa?. Pertanyaan Arius bukan saja didasarkan kepada realitas keTuhanan yang sedemikian Transenden, yang dengan begitu setiap orang berhak memiliki spekulasi pribadinya masing-masing. Lebih dari itu, ia mempertanyakan keTuhanan Yesus dan relasinya dengan kosmologi, dan seluruh ajaran bibel.
Arius, adalah seorang terdidik yang menguasai bibel. Ia menyatakan bahwa Yesus sama sekali bukan Tuhan. Karena menurutnya, keTuhanan Yesus sama sekali tidak memiliki relevansi dengan ajaran ajaran dan doktrin Injil. Perdebatan ini membuat seluruh dunia kristen gempar. Meski diketahui bahwa pertanyaan seperti yang dinyatakan Arius, sama sekali bukan hal baru dimasanya, akan tetapi dikarenakan penguasaan Arius terhadap Injil, ia menjadi pendorong dilakukannya suatu konsili di Nicea. Konsili ini juga melibatkan sang kaisar: Kaisar Konstantin, untuk turun tangan dan ikut andil dalam menyelesaikan masalah ini. Seperti yang akan kita lihat dikemudian hari, penetapan Trinitas didalam Agama Kristen sebagai kata kunci, digunakan Max Weber untuk menyatakan bahwa ada Agama yang susunan teologisnya didasarkan pada Kongres.[1]
Arius pada titik tertentu memiliki kesamaan pemahaman dengan pemahaman Teologia Platonis. Ia mengatakan bahwa Yesus bukanlah Tuhan itu sendiri. Dengan ditopang ayat-ayat biblikal, ia mencoba menjelaskan bahwa injil sama sekali tidak menyebutkan “keTuhanan” Yesus. Kalaupun ada, maka Tuhan yang disebut bibel dalam pandangan Arius adalah karena kesucian Yesus dan ketulusan pengorbanannya.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tak ada sesuatupun yang dapat terjadi.[2]
Maka dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Arius, dia sama sekali tidak bermaksud untuk menghina Yesus seperti yang disebutkan oleh musuh-musuhnya. Arius percaya bahwa orang-orang Kristen telah diberi kesucian, diselamatkan, serta ikut memiliki hakikat keilahian dalam dirinya. Ini karena seorang Yesus (dalam hal lain disebut logos), telah menjalani kehidupan seperti manusia. Dan disepanjang hidup, ia tunduk dan patuh kepada Tuhan, bahkan hingga kematiannya dikayu salib. Dan karena ketundukannya ini lah, Allah meninggikannya dan memberi sebutan “TUHAN” kepadanya. Arius mengatakan”Andaikata Yesus bukan seorang manusia, takkan ada harapan buat kita. Tak ada yang bisa kita teladani dari hidupnya jika ia adalah Tuhan secara hakiki. Justru dengan merenungkan kehidupannya yang sarat dengan nilai-nilai kepatuhan seorang anak, maka orang Kristen pun dapat menjadikan diri mereka Ilahiah. Dengan meneladani kristus, makhluk yang sempurna, mereka juga bisa menjadi makhluk ciptaan Allah dengan kesempurnaan yang tak dapat diubah dan tak dapat berubah.”[3]
Dikubu lawannya, athanasius memiliki pandangan yang berbeda. Alih-alih mengatakan bahwa Tuhan itu jauh, namun manusia memiliki kesempatan untuk menggapai kecintaanNya, ia lebih memilih untuk tidak optimis terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ia memiliki pandangan bahwa manusia adalah sesuatu yang rapuh, “Kita berasal dari ketiadaan dan akan kembali kepada ketiadaan jika kita berdosa. Oleh karena itu, ketika merenungkan makhluknya, Tuhan melihat bahwa seluruh alam ciptaan jika dibiarkan berjalan dengan sendirinya, akan berubah dan bisa mengalami kehancuran. Untuk menjaga agar alam tidak kembali menjadi tiada, Dia ciptakan segala sesuatu dengan logosnya sendiri yang abadi dan mengaruniakan wujud kepada ciptaan.”[4]
Hanya dengan tunduk dan patuh kepada Tuhanlah manusia bisa selamat dari ketiadaan. Dan karenanya, jika logos juga adalah manusia biasa, maka mengikuti jalannya tidak akan memperoleh manfaat apa-pun. Oleh karenanya, secara singkat dapat dikatakan bahwa ajaran Trinitas yang berkembang selama ini dikalangan Kristen adalah produk dari pemahaman Athanasius. Ini diperkuat lagi dengan julukan “Arius” yang hari ini ditujukan kepada orang-orang Bid’ah. Dan karenanya bermakna “Bid’ah”.
Maka, klaim-klaim Kebenaran yang diajarkan oleh para biblikal hari ini (Ajaran biblikal, sesungguhnya bagian dari penafsiran para teolog. Dan karenanya, penafsiran itu hanya sebagian kecil dari makna substantif bibel), tidak dapat dibenarkan begitu saja tanpa kritisi yang mendalam dari berbagai aspek. Dan dapat dipahami, bahwa tanpa kritik yang baik, Dunia Kristen(Dunia Barat), tidak akan mengalami kemajuan tanpa sebuah kritik dari berbagai kalangan.



b.  Mencari Tuhan sebagaimana adanya
Tuhan jika ditinjau dari aspek teologia, akan membawa banyak perdebatan. Berbagai spekulasi bermunculan dari para ahli. Tak pelik, masyarakatpun menjadi bingung untuk mencari kebenaran sejati. Teologi pada dasarnya memang merupakan ilmu yang mengkaji tentang keTuhanan, namun untuk mencapai keTuhanan, Teologi menggunakan relefansi antara Rasio dan Al-Kitab. Seperti yang diketahui oleh berbagai kalangan teolog, Agama tidak saja mengandung unsur keduniaan, lebih dari itu, pernyataan pernyataan Kitab Suci, menggambarkan aspek spiritualitas, dan bahkan eskatologi. Oleh karena itu, jika pun Teologi dijadikan epistemologi untuk mencari Tuhan sejati, Teologi tidak dapat mengklaim dirinya sebagai yang paling layak. Itu karena Teologi hanya alternatif(kalau tidak sama sekali) dari berbagai pilihan epistemik lainnya.
Belakangan, parenialis seperti John Hick, dan bahkan Karen Armstrong,[5] menggambarkan satu bentuk keTuhanan yang sejati. Masing-masing mereka menyatakan menjaga perdamaian Dunia jauh lebih penting ketimbang mempertahankan pendapat untuk perpecahan yang berkelanjutan. Lebih ekstrem lagi, John Hick mengembangkan satu bentuk Pluralisme yang baru. Ia bahkan meyakini bahwa kemungkinan kebenaran Agama lain selain Kristen, sangat memungkinkan. Kemungkinan ini diperkuat dengan bukti bahwa pengalaman spiritual yang dialami setiap orang dari berbagai Agama.
Karen Armstrong menyatakan: “Kaidah emas berarti melihat kedalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak dalam keadaan apa-pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain”. bisa dikatakan bahwa Agama yang dikembangkan oleh Karen Armstrong, dan pastinya dengan perspektif yang dibangun diatas pondasi kekristenan, merupakan Agama kemanusiaan yang pantas diterapkan dizaman ini. Compassion ini juga terbilang sebagai penguat bagi para pendahulunya seperti “Agama Cinta”, sebuah Mahakarya dari seorang John D. Caputo. John D. Caputo, menamakan ajarannya sebagai Agama tanpa Agama. Dikarenakan Agama yang dikembangkan dalam karyanya, terlihat seperti tidak bersinggungan dengan bibel, dan karenanya lebih mengandung aspek-aspek kemanusiaan yang memang menjadi kebutuhan Dunia hari ini. Ya!, sebuah Dunia yang sedang mengalami krisis kemanusiaan, dan krisis moral.
Aspek parenial yang dapat ditemukan dalam ungkapan Karen Armstrong,: “Kaidah Emas membutuhkan pengetahuan diri. Yaitu, meminta kita menggunakan perasaan kita sendiri sebagai panduan untuk memperlakukan orang lain”.[6] dalam hal ini, dibutuhkan sebuah kekritisan yang mendalam tentang suatu perintah Gereja yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, atau sebuah penafsiran-penafsiran radikal yang diklaim sebagai wujud sempurna dari penafsiran biblikal. Jika tidak mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, atau bahkan sebentuk pluralisme Religius, Agama mapan akan menjadi sebuah momok menakutkan bagi dunia modern. Jika radikalisme dipandang sebagai penafsiran universal atas bibel, maka konsekuensi yang diterima dikemudian hari memiliki kemungkinan sebagai berikut:
-      Agama dijauhi dan menyulut Atheisme
-      Radikalisme membuat kerancuan dalam teks bibel yang menyatakan “Cintai tetanggamu seperti dirimu sendiri”.[7]
Dalam hal ini, mengutip pernyataan Fritchouf Schoun[8] yang bermakna Agama sebagai pertemuan antara Tuhan sebagaimana adanya, dan manusia sebagaimana adanya, dapat menjadi landasan keber-agamaan dewasa ini.[9] Maka, Tuhan sebagaimana adanya adalah Tuhan yang bukan sebuah konsepsi atau penafsiran, dan Ia adalah Tuhan itu sendiri. Manusia sebagaimana adanya, adalah manusia yang dengan intelegensi, dapat merefleksikan nilai-nilai Ketuhanan, yang sebelumnya mencapai pancaran ilahiah keTuhanan dengan inteligensinya.
Disini, Fritjhouf Schoun ingin menyampaikan bahwa, manusia yang memiliki intelegensi (Hati), seharusnya mengembangkan Agamanya dalam wilayah “AKU” dan bukan “KAMI” atau “MEREKA”. Dengan begitu, sebuah kedamaian dalam suasana sulit ini dapat terwujudkan.
c.   Bapa, Kristus, dan Al-Kitab: Sebuah manifestasi Cinta Kasih
“Apa yang sebenarnya aku cintai, ketika aku mencintai dikau Tuhanku”. Pernyataan ini sering dikutip oleh John D. Caputo dalam mahakaryanya Agama Cinta. Dengan pernyataan ini, ia menggambarkan sebuah kebingungan yang absolut, namun tetap dibaringi oleh usaha pencarian tanpa lelah. Dan karenanya, Caputo juga menolak Absolutis. Gagasan-gagasan cemerlangnya seputar Agama, memang terlihat sedemikian kabur, sehingga sulit menangkap, setidaknya apa yang dimaksudkannya dalam goresan-goresan tinta diatas kertas tersebut.
Puncak terma dalam buku itu adalah “Agama tanpa Agama”. Gagasan ini dibangun atas dasar pemahaman yang mendalam tentang keberagama-an. Menurutnya, Agama tidak bisa dipandang secara singular (Dan jika pun bisa, tidak ada agama yang pantas mendapat sertivikasi kebenaran). Sebab, Agama tidak bisa dipandang sebagai objek yang berdiri sendiri. Hal ini karena sulitnya mencari satu titik temu dalam pemaknaan Agama jika dibiarkan berdiri sendiri. Dan karenanya, akan ditemukan berbagai permasalahan-permasalahan yang pada dasarnya tidak subtantif. Maka, biarkanlah ia tetap pada dirinya sendiri, dan jikapun bersinggungan dengan realitas kemanusiaan, biarkanlah manusia-manusia itu menjadi bingung.
Kristus (dalam hal ini Yesus, dan bukan Sang Bapa), bagaimanapun (terlepas dari: Apakah ia Tuhan atau hanya manusia biasa), telah menunjukkan satu bentuk spiritual yang sempurna dalam tradisi Kristen. Ia mengilhami ketundukan, kepatuhan, serta kecintaan yang mendalam terhadap Tuhannya (dan karenanya juga kepada seluruh makhluk). Begitupun halnya dengan Sang Bapa. Ungkapan ungkapan seperti “Barang siapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak mengenal Tuhan. Karena Tuhan adalah Kasih”, menggambarkan dengan jelas betapa besarnya kedua person (Dengan tidak bermaksud mempersonifikasikan Tuhan) yang merefleksikan suatu bentuk Cinta yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam hal ini, Al-Kitab menjadi mediasi dalam perpindahan Cinta itu hingga sampai kepada kita saat ini.
Memang benar bahwa, term-term Cinta dalam tradisi Agama, dipandang sebagai gagasan-gagasan yang terilhami oleh kemandegan, dan karenanya anti revolusi. Begitu pun negatifnya cara pandang masyarakat “Beragama” terhadap terma Cinta, toh dalam kehidupan sehari-hari setiap orang merefleksikan kecintaannya kepada sesamanya. Jika kita mendengar seorang Gadis menyatakan bahwa ia mencintai Pria hanya sampai batas tertentu, ini berarti hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Harus dicatat, bahwa Cinta tidak mengenal batasan-batasan yang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Dan karenanya, mencintai seseorang haruslah secara total(pasti lebih baik mencintai Yang Total dengan KeTotalanNya).
Maka, dalam menyikapi Radikalis dan Liberalis, Agama tanpa Agama perlu mengambil jalan tengah (Jika masih belum menemukan keyakinan), untuk menyusun kerangka keyakinan yang nantinya akan dijadikan tolak ukur; kepada siapa ia harus berpihak. Jika kaum moderat yang begitu picik memaknai moderat sebagai hanya sekedar jalan Tengah, maka hal ini akan sangat berbahaya dan mengakibatkan penindasan yang berkelanjutan. Selain itu pun, sebuah Agama/keyakinan/kepercayaan, adalah sebuah keberpihakan. Maka dalam hal ini, seseorang dengan “Agama tanpa Agama” haruslah berpihak, setidaknya kepada realitas yang lebih objektif dan yang pastinya yang paling dekat dengan nilai-nilai moral ajaran Agama


[1]. Max Weber dalam buku terjemahan Sosiologi Agama, sering menyebut Agama yang diidentifikasi sebagai Agama Kristen, sebagai “Agama Kongres”. Menurut penulis, penyebutan yang dipakainya ini, disandarkan pada keputusan Konsili Nicea ini.
[2]. Yohanes 1:3
[3]. Arius mendasarkan argumennya pada pernyataanPaulus. Pernyataan paulus ini dikutip dari: Sejarah Tuhan, yang ditulis oleh Karen Armstrong. Hal. 179
[4]. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan. Hal. 180
[5]. Penulis tidak bermaksud untuk memasukkan Karen Armstrong sebagai Parenialis. Tapi setidaknya, buku yang berjudul Compassion yang dikeluarkan tahun 2012, adalah sebuah indikasi menuju parenial.
[6]. Karen Armstrong, Compassion. Hal. 85
[7].Imamah 19:18
[8]. Lihat Understanding Islam. Hal. 1
[9]. Meski pernyataannya ini ditujukan untuk Islam. Pluralisme Religius yang dikembangkan John Hick dalam tradisi ini membenarkan untuk mengakui segala proposisi spiritual yang dikembangkan dalam agama mana pun.

0 komentar:

Posting Komentar