Muhammad Seorang Pelaut. Judul diatas jika diperhatikan sekilas dan dimaknai secara dangkal, akan memicu pemahaman keliru seputar Muhammad, Bahkan akan menimbulkan kontroversi baru yang sebelumnya tidak pernah ada dalam sejarah perkembangan Ilmu Sejarah Islam. Akan tetapi, dapat diperhatikan bahwa judul diatas sebenarnya mewakili sebuah pertanyaan khusus yang juga mewakili rasa kagum dari apa yang dibawa Muhammad berupa Al-Qur'an yang Agung.
Bila abad I dan II sampai VII hijrah, mu'jizat Al-Qur'an hanya bisa digali sebatas bidang sastra sampai penalaran Filsafat, maka di abad ke 21 ini kita mendapati begitu banyak tafsir yang menginterpretasikan ayat ayat Al-Qur'an secara saintis. terlepas dari apakah yang mereka lakukan merupakan usaha untuk mencocok cocokkan Al-Qur'an dengan realita modern, atau memang sebuah kitab yang mengklaim dirinya berasal dari Tuhan, harus sesuai sepanjang zaman??
Sejarah mengatakan bahwa Muhammad adalah seseorang yang lahir di daerah Arab Hijaz, lebih tepatnya di makkah. Untuk masalah Tahun banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama, yang mana penulis tidak akan memfokuskan tulisan pada bab sejarah. Yang pastinya, Muhammad adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah di daerah gurun pasir yang sampai saat ini merupakan tempat yang tandus dan berada jauh dari lautan. tetapi Al-Qur'an yang dibawanya memiliki Indikasi yang berbeda. jika mengkaji Al-Qur'an dengan cara barat, maka akan ditemukan pertentangan tentang darimana ajaran Muhammad berkembang, aktualisasi keagamaan yang dilakukan oleh Muhammad, sampai penyebaran yang secara langsung dilakukan oleh Muhammad. Terlepas dari teori atau kerangka apa yang akan dipakai dalam tulisan ini, Penulis akan berusaha seobjektif mungkin melakukan Interpretasi terhadap Ayat Ayat Al-Qur'an yang mengkaji tentang laut serta sistem dan kausalitas yang terjadi di lautan. Dan yang pastinya merujuk kepada sumber yang populer dikalangan Masyarakat Luas.
Al-Qur'an menyebutkan laut dan lautan sebanyak 37 X dan menyebut ilmu ilmu tentang kelautan sebanyak 5 X. Diantara keduanya ada yang lebih menarik, dan menurut penulis lebih seksi untuk dibedah. yaitu penyebutan kata lautan dan daratan sebagai tempat mencari karunia Allah sekaligus merupakan Ni'mat Allah yang harus disyukuri. Al-Qur'an menyebutkan Laut sebanyak 32 X, sedangkan kata darat sebanyak 13 X. Secara matematis, bumi yang terdiri dari laut dan darat adalah 45 (sebagaimana dijelaskan diatas Laut 32 dan darat 13. maka 32+13=45). dan 45=100% dari Bumi. maka lautan adalah 32/45*100%=71,11% & Daratan adalah 13/45*100%=28,88%. Ilmu Kebumian modern membenarkan Al-Qur'an, karena fakta memang mengatakan bahwa bumi kita yang luas ini terdiri dari -/+ 71,11% Lautan dan 28,88% daratan. Luar biasa dan Maha Agung Allah yang menurunkan Al-Qur'an yang penuh mukjizat.
Selain itu, Muhammad juga menyampaikan kepada ummatnya tentang laut yang berlapis-lapis. Di dalam Al-Qur'an Surah An-Nur (24) : 40 Allah berfirman : "Atau seperti gelap gulita dilautan yang dalam, yang diliputi ombak yang diatasnya ada ombak pula, diatasnya awan yang gelap gulita yang bertindih tindih, apabila ia mengeluarkan tangannya tiadalah ia dapat melihatnya. Barang siapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah, tiadalah dia memiliki cahaya sedikitpun."
Allah memberi kiasan dengan lautan yang ombaknya berlapis lapis. maka apakah benar ombak yang ada dilaut itu berlapis lapis???, didalam buku yang berjudul Al-Qur'an dan Lautan yang ditulis oleh Agus S. Djamil, beliau menyatakan bahwa memang benar ombak yang kita lihat dilautan saat ini adalah berlapis lapis. dengan kata lain, apa yang kita lihat sebagai ombak saat ini merupakan permukaan dari ombak yang terdiri dari banyak lapisan.
terlepas dari apakah ombak yang dimaksud hanya berupa ombak yang menghantam kapal kapal yang ada dilautan, ataukah memiliki makna yang lebih luas lagi, Agus S. Djamil juga menjelaskan bahwa jika ayat diatas diperluas, maka akan ditemukan keajaiban yang lebih mencengangkan lagi tentang lapisan lapisan yang difirmankan oleh Allah. Bagaimanapun, lapisan ombak yang tertera pada surah An-Nur diatas, bisa saja memiliki makna yang luas berupa aliran atau arus yang terdapat di lautan yang juga memiliki lapisan yang berbeda beda pula. Lapisan lapisan ini terbentuk oleh karena adanya densitas atau berat jenis yang berbeda disetiap meter kedalaman laut. sebagai contoh, Ombak bawah permukaan terjadi pada kawasan perbatasan antara dua jenis air yang berbeda. Air yang memiliki densitas atau berat jenis lebih berat akan berada pada bagian yang lebih dalam dari lautan, sedangkan yang lebih ringan akan terlihat dipermukaan. oleh karena itu, semakin dalam kita masuk ke lautan, maka akan dijumpai lapisan lapisan yang memiliki ombaknya atau aliran arusnya sendiri sendiri.
Suatu ketika, Seorang pelaut Non Muslim meminjam Al-Qur'an terjemahan milik temannya. Dia kaget bukan kepalang ketika melihat ayat ini, Dan dia bertanya "Apakah Muhammad seorang pelaut." temannya hanya menjawab bahwa Muhammad lahir ditengah gurun pasir yang tandus, dan melakukan aktifitas ditengah tengah masyarakat gurun yang berada digurun pula. Pelaut Non Muslim tersebut hanya bertanya di dalam hati, bagaimana mungkin sebuah kitab suci yang sama sekali tidak diyakininya, memiliki penjelasan serinci ini tentang lautan yang hanya bisa dijelaskan oleh seorang pelaut??. karena merasa takjub, serta getaran hatinya pun tak kalah hebatnya dengan ketakjuban logikanya, akhirnya dia memilih menjadi seorang Muslim.
Mungkin bagi pelaut diatas cukup satu tanda yang memang benar benar membuatnya yakin akan kebenaran Al-Qur'an.
Al-Qur'an yang dibawa oleh sosok Nabi yang berasal dari gurun/ padang pasir itupun tidak hanya menjelaskan sebatas itu tentang lautan. Di dalam Surah Al-Rahman (55): 19-22 Allah SWT. berfirman: "Dia membiarkan dua laut mengalir dan kemudian keduanya bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing masing. maka ni'mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
mungkin ayat ini sudah terlalu sering kita dengar, dan interpretasinya pun sudah cukup populer bahwa ahli tafsir mengatakan yang dimaksud "antara keduanya ada batas yang tidak terlampaui" adalah pertemuan antara air laut dan air tawar yang mana kedua jenis air itu tidak mungkin bercampur, dan memang keduanya ada batas yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang bahwa memang benar keberadaan batas itu.
lebih luas lagi Agus S. Djamil menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya satu karunia yang sangat besar yang berada diantara kedua batas tersebut.
Agus S. Djamil menjelaskan batas itu sebagai Batas batas kedalaman laut antara 100 meter pertama sampai seterusnya. Diantara lapisan Laut bagian atas dan lapisan laut bagian dalam , terdapat suatu batas yang memiliki gelombang rambat suara yang sangat luar biasa. tepatnya antara kedalaman 800-1300 meter. Disini terdapat suatu batas yang memilikin gelombang Rambat suara yang dinamakan Kanal Sofar. Jika merujuk pada pemahaman ini, maka munasabah ayat satu dan selanjutnya akan lebih logis. karena kanal sofar ini merupakan satu karunia yang luar biasa yang denganya lah Allah bertanya "Maka Ni'mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Dan Tafsiran Al-lu'luah wal Marjan pun akan lebih logis bila ditafsirkan sebagai mutiara dan marjan.
karena Mutiara sangat amatlah sulit ditemukan diantara laut dan sungai yang menjadi batas antara air tawar dan air asin, namun sangat mudah ditemukan dikedalaman lautan yang terdapat kanal sofar ini.
Subhanallah...
Jika saat ini orang orang mempertanyakan tentang Al-Qur'an, dan membantah bahwa Muhammad adalah seseorang yang ummi, maka bagaimana dengan karunia yang ini???
apakah Muhammad seorang pelaut, atau seseorang yang tinggal digurun??
Sejarah dan Antropologi, serta ilmu kelautan dan geologi mendukung kebenaran Al-Qur'an.
Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
eL-Siantary...
Interpretation From Al-Qur'an dan Lautan oleh Agus S. Djamil.
Bila abad I dan II sampai VII hijrah, mu'jizat Al-Qur'an hanya bisa digali sebatas bidang sastra sampai penalaran Filsafat, maka di abad ke 21 ini kita mendapati begitu banyak tafsir yang menginterpretasikan ayat ayat Al-Qur'an secara saintis. terlepas dari apakah yang mereka lakukan merupakan usaha untuk mencocok cocokkan Al-Qur'an dengan realita modern, atau memang sebuah kitab yang mengklaim dirinya berasal dari Tuhan, harus sesuai sepanjang zaman??
Sejarah mengatakan bahwa Muhammad adalah seseorang yang lahir di daerah Arab Hijaz, lebih tepatnya di makkah. Untuk masalah Tahun banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama, yang mana penulis tidak akan memfokuskan tulisan pada bab sejarah. Yang pastinya, Muhammad adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah di daerah gurun pasir yang sampai saat ini merupakan tempat yang tandus dan berada jauh dari lautan. tetapi Al-Qur'an yang dibawanya memiliki Indikasi yang berbeda. jika mengkaji Al-Qur'an dengan cara barat, maka akan ditemukan pertentangan tentang darimana ajaran Muhammad berkembang, aktualisasi keagamaan yang dilakukan oleh Muhammad, sampai penyebaran yang secara langsung dilakukan oleh Muhammad. Terlepas dari teori atau kerangka apa yang akan dipakai dalam tulisan ini, Penulis akan berusaha seobjektif mungkin melakukan Interpretasi terhadap Ayat Ayat Al-Qur'an yang mengkaji tentang laut serta sistem dan kausalitas yang terjadi di lautan. Dan yang pastinya merujuk kepada sumber yang populer dikalangan Masyarakat Luas.
Al-Qur'an menyebutkan laut dan lautan sebanyak 37 X dan menyebut ilmu ilmu tentang kelautan sebanyak 5 X. Diantara keduanya ada yang lebih menarik, dan menurut penulis lebih seksi untuk dibedah. yaitu penyebutan kata lautan dan daratan sebagai tempat mencari karunia Allah sekaligus merupakan Ni'mat Allah yang harus disyukuri. Al-Qur'an menyebutkan Laut sebanyak 32 X, sedangkan kata darat sebanyak 13 X. Secara matematis, bumi yang terdiri dari laut dan darat adalah 45 (sebagaimana dijelaskan diatas Laut 32 dan darat 13. maka 32+13=45). dan 45=100% dari Bumi. maka lautan adalah 32/45*100%=71,11% & Daratan adalah 13/45*100%=28,88%. Ilmu Kebumian modern membenarkan Al-Qur'an, karena fakta memang mengatakan bahwa bumi kita yang luas ini terdiri dari -/+ 71,11% Lautan dan 28,88% daratan. Luar biasa dan Maha Agung Allah yang menurunkan Al-Qur'an yang penuh mukjizat.
Selain itu, Muhammad juga menyampaikan kepada ummatnya tentang laut yang berlapis-lapis. Di dalam Al-Qur'an Surah An-Nur (24) : 40 Allah berfirman : "Atau seperti gelap gulita dilautan yang dalam, yang diliputi ombak yang diatasnya ada ombak pula, diatasnya awan yang gelap gulita yang bertindih tindih, apabila ia mengeluarkan tangannya tiadalah ia dapat melihatnya. Barang siapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah, tiadalah dia memiliki cahaya sedikitpun."
Allah memberi kiasan dengan lautan yang ombaknya berlapis lapis. maka apakah benar ombak yang ada dilaut itu berlapis lapis???, didalam buku yang berjudul Al-Qur'an dan Lautan yang ditulis oleh Agus S. Djamil, beliau menyatakan bahwa memang benar ombak yang kita lihat dilautan saat ini adalah berlapis lapis. dengan kata lain, apa yang kita lihat sebagai ombak saat ini merupakan permukaan dari ombak yang terdiri dari banyak lapisan.
terlepas dari apakah ombak yang dimaksud hanya berupa ombak yang menghantam kapal kapal yang ada dilautan, ataukah memiliki makna yang lebih luas lagi, Agus S. Djamil juga menjelaskan bahwa jika ayat diatas diperluas, maka akan ditemukan keajaiban yang lebih mencengangkan lagi tentang lapisan lapisan yang difirmankan oleh Allah. Bagaimanapun, lapisan ombak yang tertera pada surah An-Nur diatas, bisa saja memiliki makna yang luas berupa aliran atau arus yang terdapat di lautan yang juga memiliki lapisan yang berbeda beda pula. Lapisan lapisan ini terbentuk oleh karena adanya densitas atau berat jenis yang berbeda disetiap meter kedalaman laut. sebagai contoh, Ombak bawah permukaan terjadi pada kawasan perbatasan antara dua jenis air yang berbeda. Air yang memiliki densitas atau berat jenis lebih berat akan berada pada bagian yang lebih dalam dari lautan, sedangkan yang lebih ringan akan terlihat dipermukaan. oleh karena itu, semakin dalam kita masuk ke lautan, maka akan dijumpai lapisan lapisan yang memiliki ombaknya atau aliran arusnya sendiri sendiri.
Suatu ketika, Seorang pelaut Non Muslim meminjam Al-Qur'an terjemahan milik temannya. Dia kaget bukan kepalang ketika melihat ayat ini, Dan dia bertanya "Apakah Muhammad seorang pelaut." temannya hanya menjawab bahwa Muhammad lahir ditengah gurun pasir yang tandus, dan melakukan aktifitas ditengah tengah masyarakat gurun yang berada digurun pula. Pelaut Non Muslim tersebut hanya bertanya di dalam hati, bagaimana mungkin sebuah kitab suci yang sama sekali tidak diyakininya, memiliki penjelasan serinci ini tentang lautan yang hanya bisa dijelaskan oleh seorang pelaut??. karena merasa takjub, serta getaran hatinya pun tak kalah hebatnya dengan ketakjuban logikanya, akhirnya dia memilih menjadi seorang Muslim.
Mungkin bagi pelaut diatas cukup satu tanda yang memang benar benar membuatnya yakin akan kebenaran Al-Qur'an.
Al-Qur'an yang dibawa oleh sosok Nabi yang berasal dari gurun/ padang pasir itupun tidak hanya menjelaskan sebatas itu tentang lautan. Di dalam Surah Al-Rahman (55): 19-22 Allah SWT. berfirman: "Dia membiarkan dua laut mengalir dan kemudian keduanya bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing masing. maka ni'mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
mungkin ayat ini sudah terlalu sering kita dengar, dan interpretasinya pun sudah cukup populer bahwa ahli tafsir mengatakan yang dimaksud "antara keduanya ada batas yang tidak terlampaui" adalah pertemuan antara air laut dan air tawar yang mana kedua jenis air itu tidak mungkin bercampur, dan memang keduanya ada batas yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang bahwa memang benar keberadaan batas itu.
lebih luas lagi Agus S. Djamil menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya satu karunia yang sangat besar yang berada diantara kedua batas tersebut.
Agus S. Djamil menjelaskan batas itu sebagai Batas batas kedalaman laut antara 100 meter pertama sampai seterusnya. Diantara lapisan Laut bagian atas dan lapisan laut bagian dalam , terdapat suatu batas yang memiliki gelombang rambat suara yang sangat luar biasa. tepatnya antara kedalaman 800-1300 meter. Disini terdapat suatu batas yang memilikin gelombang Rambat suara yang dinamakan Kanal Sofar. Jika merujuk pada pemahaman ini, maka munasabah ayat satu dan selanjutnya akan lebih logis. karena kanal sofar ini merupakan satu karunia yang luar biasa yang denganya lah Allah bertanya "Maka Ni'mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?". Dan Tafsiran Al-lu'luah wal Marjan pun akan lebih logis bila ditafsirkan sebagai mutiara dan marjan.
karena Mutiara sangat amatlah sulit ditemukan diantara laut dan sungai yang menjadi batas antara air tawar dan air asin, namun sangat mudah ditemukan dikedalaman lautan yang terdapat kanal sofar ini.
Subhanallah...
Jika saat ini orang orang mempertanyakan tentang Al-Qur'an, dan membantah bahwa Muhammad adalah seseorang yang ummi, maka bagaimana dengan karunia yang ini???
apakah Muhammad seorang pelaut, atau seseorang yang tinggal digurun??
Sejarah dan Antropologi, serta ilmu kelautan dan geologi mendukung kebenaran Al-Qur'an.
Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
eL-Siantary...
Interpretation From Al-Qur'an dan Lautan oleh Agus S. Djamil.
0 komentar:
Posting Komentar