Senin, 12 Januari 2015

SAJAK-SAJAK UNTUK PILAR: Suara tangis dari tepi sungai Piedra


Langit menjadi saksi atas kalut dan getir yang kau rasa. Duduk dan tangismu adalah curahan karunia atas aliran air di sungai piedra. Bahkan, tanah tepian sungai itu kini ditumbuhi berkat-berkat Ilahi. Ucapanmu yang sungguh puitis lenyap-hilangkan ketenangan dan keceriaan hati siang itu; “Mungkin Cinta membuat kita menua sebelum waktunya—atau menjadi muda, jika masa muda telah lewat”.
**
Kau, Aku, dan mungkin seluruh manusia, pernah mendengar suara itu. Pada mulanya, kita tak pernah tahu—apakah panggilan dan larangan yang dikandungnya benar-benar nyata. Kita tak pernah menyangkalnya. Toh kita sadar—meski dalam keraguan—suara itu ada; entah nyata atau ilusi. Perlahan, suara itu arahkan kita pada banyak hal yang tak logis; tepatnya tak sama dengan yang diajarkan sekolah-sekolah kepada kita. Dan saat seruan tak lagi mampu dicerna, banyak yang meninggalkannya. Bahkan lupakannya menjadi hal terbaik sepanjang kegetiran di dalam buaian mimpi. Kini, aku tau; penyesalan telah jemput taqdirku.
**
Mesin-mesin industri telah lama gantikan cangkul dan palu. Gedung-gedung menjulang tinggi, mencapai angkasa, angkuh dihadapan langit yang bahkan tak jua dicapai. Polusi, pun gantikan udara segar yang Tuhan karuniakan kepada kita. Setelah semua ini, bagaimana mungkin kau masih mengharapkan hal itu? Aku sadar betul, Dia punya banyak wajah. Namun saat kau ungkap kecantikan, dan keanggunanNya, jangan pernah harapmu tumpul. Jangan pernah surut langkahmu. Karena Ia, juga Wanita. Kau tak salah ucap; “Semua kepercayaan besar—Yahudi, Katolik, dan Muslim—bersifat Maskulin. Para pria lah yang mengendalikan dogma, mereka menciptakan hukum dan peraturan, dan biasanya semua imam laki-laki.” Tetaplah percaya pada sisi femininNya.
**
Kau tahu tentang ucapan wanita itu? Ia menceritakan siklus hidup. Sebuah taqdir kekal yang liputi kita semua; lahir, tumbuh, berkembang, tua, dan mati. Ini lah kuasa atas kuasa. Ini lah Rahmat di atas Rahmat. Bukankah datang berarti kembali?
**
Pilar, inginkah kau dengar bujuk rayuku? Bukan sesuatu yang muncul dari kegundahan menyaksikanmu. Jauh melampaui itu, aku terkesima pada langkah awalmu. Dalam Tradisiku, kami kenal pepatah; “Rumahku, Surgaku”. Dan wanita itu, bercerita tentang Rahim Bunda. Dan kalian para wanita, tubuh pun ikuti irama bulan. Lemah bukan berarti tiada daya. Namun memang alam gariskan Surga sebagai lahan kerja bidadari. Bukankah cerita kalian tentang Surga pantas kami dengar setiap hari?
**
Air dan tanah bentuk kehidupan abadi; kalian adalah air, sedang kami—para lelaki—adalah tanah.
**
Jangan bicara begitu! Bukankah tempat asal selalu dirindu? Bukankah ia adalah bagian dari kenang yang tak luput? Masa lalu pasti berarti. Rumah yang ditinggal, pasti harapkan mu tuk kembali.
**
Wanita yang terbiasa dengan gedung dan mesin-mesin industri, telah melupakan panggilan batinnya. Diberkati lah kau, yang bersama dengan rumput-rumput hijau juga sapi dan gembala. Diberkatilah kau yang masih mendengar suara hatimu.
**
Bicara tentang kemurnian, tentu ia sesuatu yang baik. Bukankah segalanya bermula dari kebaikan? Hari pertama..., Bapamu melihat kebaikan. Hari selanjutnya, saat terang dan gelap di pisahkan, Bapamu pun melihat kebaikan. Selanjutnya, Air dari darat, itu pun kebaikan. Sampai hari yang ke-tujuh, segalanya masih baik. Kita lah yang merusak kemurnian. Menggoreskan luka dalam yang juga teriakan rasa sakit.
**
Orang-orang yang mencoba membunuh raga melanggar aturan Tuhan. Yang mencoba membunuh jiwa juga melanggar aturan Tuhan. Kita tak pernah bisa pisahkan bentuk dari isi. Toh bentuk tak kan berarti jika tak diselami, dan isi tak kan bertahan tanpa bentuk. Kini, kita hanya diperintah tuk lampaui bentuk.
**
Kita kehilangan kontak dengan kehidupan. Manusia terasing dari bumi. Seorang ayah, terasing dari keluarga. Kita semua adalah orang asing. Mesin-mesin telah gantikan peran kita. Gerak tak lagi penting; karena apa yang dianggap penting adalah menciptakan gerak. Ini pembunuhan! Dan kita adalah tersangka yang juga korban.
**
Mata rantai penghubung tak pernah sebatas “hanya”. Bahkan, saat kita berharap tuk kembali, ia adalah segalanya. Ia adalah apa yang hantarkan kita pada permulaan yang juga tujuan.
**
Yang menemukan Cinta pastilah orang gila. Karena mencintai berarti kehilangan kendali.
**
“Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.” Kecurigaanmu tak dangkal, namun salah. Domba-domba pun mencurigai gembala, sebagaimana mereka mencurigai serigala. Jangan kira Cinta punya sisi gelap, karena ia adalah terang itu sendiri. Mata kita lah yang selalu melihat gelap.
**
Ada orang-orang yang harus berdebat dengan orang lain, kadang-kadang bahkan dengan diri dan kehidupan mereka sendiri. Karenanya, mereka mulai menciptakan sebuah sandiwara dibenak mereka, dan menuliskan skenarionya berdasarkan perasaan frustasi mereka.”
**
Ya! Mimpi selalu butuh nafas. Dan mimpimu, butuh nafasmu. Hanya kau yang tahu bagaimana untuk terus hidupkan mimpimu. Namun kau keliru jika menganggap mimpi adalah rekayasa yang kau buat untuk kesenangan. Mimpi, adalah karunia yang bahkan hidupkan dirimu.
**
Bunda adalah pengantin dan mempelai kosmik. Ia ciptakan sebuah generasi baru; generasi yang tenggelam di dalam cinta, hidup, dan melebur bersamanya. Pada akhirnya, generasi itu adalah Cinta.
**
Kabut, tipis atau tebal, adalah air. Ia tak pernah tutupi keindahannya, karena indahnya telah tutupi selainnya. Air telah merahmatkan hidup. Mengaruniakan ketenangan dan kebahagiaan. Mengobati dahaga saat diri merasa gundah. Air, disebut di Genesis—sebuah permulaan dari Rahmat Ilahi—“Ketika Roh Allah melayang-layang diatas air..., dan di akhir dari Wahyu, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, Marilah! Dan barang siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata, ‘Marilah!’Dan barang siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barang siapa yang mau, hendaklah ia datang mengambil air kehidupan dengan Cuma-Cuma”
**
Pilar! Aku mengenalmu, seperti aku mengenal diriku. “Cinta memiliki suaranya sendiri, dan berbicara untuk dirinya sendiri.”; begitu kau berucap. Kau tahu, Sang Alkemi pernah berkata-kata tentang sesuatu yang mirip; “Pada Hakikatnya, segala sesuatu adalah satu”.
**
Gelap memang bukan terang. Namun keduanya adalah satu dalam perbedaannya. Jika tak ada gelap, bagaimana akan ada terang? Satu hal yang penting dari gelap dan terang tak lain adalah Cinta. Orang-orang tahu, bahwa Cinta akan membawa seseorang ke suatu tempat. Ke sebuah taman, atau gurun kesengsaraan. Entah ke neraka atau Surga, Cinta selalu membawa kita kepada hal yang baru.
**
Sebuah pesan penting yang harus kau dengar; saat gedung dan mesin-mesin telah gantikan keserasian, orang-orang enggan menerima Cinta. Ini karena pepohonan dan rumput-rumput tak lagi berkata-kata. Ini karena suara sumbang yang terdengar dari segala yang baru. Ini karena Cinta tak lagi melihat kita. Semoga, berkat ilahi tercurah kepadamu wahai kasih.
**
Kita semua memang harus kembali ke tempat asal. Jika kita enggan, sesuatu akan bantu kita tuk kembali. Kemarin, saat aku duduk di atas altar gereja, aku melihat lukisan Sang Bunda bersama dengan putra kecilNya. Sepintas, terlihat Bunda sedang menggendong anakNya. Padahal kalau mata lebih jelih, Yesus lah yang mengangkat Bunda; Satu TanganNya berada di punggung Bunda, dan yang lain, menunjuk keatas. Yesus membawa Bunda ke langit. Mengembalikan Sang Bunda ke pangkuan mempelaiNya.
**
“Iman Sekecil butiran pasir pun akan memampukan kita memindahkan gunung.” Se-dari dahulu, aku mencari Iman di tempat-tempat dimanapun aku bisa. Aku mencari kejutan-kejutan baru, yang dibicarakan orang-orang. Aku mencari Tuhan, di luar diriku; padahal kejutan terbesar di dalam hidup adalah diri sendiri.
**
Sungguh bodoh! Aku dan teman-temanku bertamasya ke taman main anak-anak. Disana, kami lihat sebuah loudspeaker yang mengeluarkan suara. Teman-temanku terkesima melihatnya; mereka berkata bahwa benda mati itu lah yang bersuara. Sungguh bodoh orang-orang yang mengatakan benda mati telah berbicara.
**
Diberkati lah kalian yang memberikan tubuh kepada Tuhan. Membiarkan Tuhan bekerja melalui Tubuh kalian.
**
Seorang manusia yang bimbang tak dapat menghadapi kehidupan dengan penuh martabat.
**
Seorang filusuf besar—Descartes—pernah berkata, “Keragu-raguan adalah jalan menuju kepastian”. Bagaimana mungkin kita akan membangun rumah di atas pondasi yang rapuh? Bukankah semuanya akan hancur sebelum kita memiliki rumah?
**
Bertahun-tahun aku melawan hatiku, karena takut mengalami kegetiran, penderitaan, dan ditinggalkan. Namun kini aku tahu cinta sejati berada diatas segalanya, dan lebih baik mati daripada gagal mencintai.
**
Memang berat menggapai Kasih. Sebuah kacang polong pun harus mengalami penderitaan sebelum ia siap untuk dimakan. Tapi betapa banyak orang yang tak hargai Cinta? Betapa banyak orang yang tinggalkannya demi kesenangan semata? Kita harus siap atas segala hal; kesendirian, kegetiran, dan rasa sakit. Betapa pun resiko yang harus dibayar, Cinta sungguh berarti.
**
Betapa kita selalu berlari dari resiko-resiko yang ada. Menerima Cinta, mungkin seperti dipaksa menuju lantai 100 dari sebuah bangunan; ketika kau gagal, itu artinya melompat. Dan jika kita menolaknya, itu berarti hanya sampai di lantai tiga; toh tidak ada hidup tanpa resiko. Bukankah sama sakitnya, entah itu melompat dari lantai tiga, atau seratus? Barangkali seperti itu.
**
Cinta selalu butuh keberanian. Jika masih ada rasa takut, itu berarti kita tidak sungguh-sungguh mencintai. Jika kita benar-benar menginginkan sesuatu, alam akan membantu kita. Jika kita inginkan Cinta, Cinta akan nyatakan dirinya. Dan jika seseorang benar-benar mencintai kita, itu artinya semua orang mencintai kita. Memang butuh lebih dari keberanian untuk mengakui hal ini.
**
Kita adalah bagian dari mimpi-mimpi Tuhan, dan Ia ingin mimpiNya bahagia. Jika kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan kita demi kebahagiaan, kita harus menganggap segala sesuatu yang mendatangkan kesedihan dan kekalahan adalah ulah kita sendiri. Itu lah alasan kenapa kita selalu membunuh Tuhan, entah diatas kayu salib, dengan api, lewat pengasingan, atau di dalam hati kita sendiri. Manusia memang kejam.
**
Pilar, Kini aku menarik diri dari keramaian. Bukan karena membencinya, tapi karena kesendirian akan mendatangkan keheningan. Dan aku mencintai apa yang datang. Kau tahu? Aku benar-benar sadar; selama ini tak sesaat pun aku mampu benar-benar beriman. Padahal aku tahu apa itu iman.
**
Saat berbicara tentang jiwa dunia, orang-orang menertawakanku. Mereka mengatakan bahwa aku tak lebih dari seorang penyair bodoh. Seorang penyair, yang sama sekali tak mengerti tentang jiwa. Aku tak tahu, aku tak mengerti; siapa yang sebenarnya bodoh?
**
Banyak orang yang berbicara tentang ilusi. Tentang gedung-gedung tinggi pencakar langit, pabrik yang hasilkan polusi dan limbah, uang yang tak lain hanya kertas-kertas murahan, atau kertas-kertas saham yang selalu menjadi taruhan bagi sebuah bangsa. Aku tak mau mendengarnya, aku takut menjadi gila.
**
Kebahagiaan macam apa yang kita cari di dunia ini? Lagipula, dunia telah menjadi kesengsaraan; sebuah rong-rongan baru bagi kesedihan dan penderitaan. Lantas, apa lagi?
**
Banyak orang yang mencari keajaiban diantara kerumitan. Mereka lupa, bahkan hal yang paling luar biasa, berada ditengah-tengah kesederhanaan.
**
Semua manusia adalah petualang. Namun tak banyak yang mau menerima petunjuk. Wajar, bila tak sedikit yang tersesat.
**
Aku ingin sepertimu. Menjadi pencari yang diberkati. Yang Di Cari telah hadirkan diriNya dihadapanmu. Lalu, aku pun cemburu.
**
Betapa lama aku mengagungkan kemurahan Tuhan. Menyanjung dan memuji-mujinya, seraya mengukuhkan jawab atas tanya; “Apakah aku murah hati?” mana yang lebih murah hati; yang menerima kemurahan, atau yang memberi?
**
Menyatakan diri berjalan diatas jalan yang benar? Aku kira tak masalah. Menganggap hanya jalan kita yang benar? Ini keangkuhan, ini pembunuhan!
**
Kehidupan telah ada sebelum kita dilahirkan, dan akan terus ada setelah kita meninggalkan dunia ini. Begitu pula Cinta; Cinta telah ada sebelumnya, dan akan berlangsung selama-lamanya.
**
Cinta tidak berubah, manusia lah yang berubah.
**
Pilar! Mengapa kau tak pulang? Mengapa malah tangisi kepergian? Mengapa kau menunggu jawab atas tanya yang tak pasti? Saat luka-luka tak lagi terobati, apalagi yang kau tunggu? Masih sanggupkah bertahan ditepi sungai kesengsaraan ini?
Pagi ini, angin sejuk tiupkan rindu padamu. Bisikkan Cinta, yang kau pilih. Singkirkanmu dari kebiasaan lama terkutuk itu. Santai saja! Tangismu bukan kutukan, pedihmu bukan kesengsaraan. Ia, bagian dari derita yang jeritnya tak terpahami. Ia, tak lain adalah bahagia yang tertunda.
Aku mematut-matut diri, agar kasih sampai siang ini. Duduk, bersama harap yang tak juga nyatakan dirinya. Memaki-maki kesalahan tempo lalu, untuk jemput ingatku padamu.
Kau tahu? Bodohnya aku saat tak raih cintamu. Aku masih mencaci-maki diri atas kesalahan itu. Masih seperti itu.
Jangan marah lagi sayang..
Jangan lagi! Tahan lah amarahmu, redam lah sengsara di dalam batin. Buang, biar ia pergi bersama derasnya alir air sungai. Kau dengar gemercik air di antara bebatuan? Jika dengar, dekap lah aku...
Dekap aku sayangku...
Semesra dekapmu dahulu diranjang kamar tidurmu. Seperti saat kita sebut-sebut nama Tuhan di dalam Rindu dan Cinta. Seperti saat kita berdzikir malam itu. Kau memelukku, aku menciummu. Bukankah sakralnya Cinta telah kalahkan tumpukan berlianmu? Bukankah ia lebih hangat ketimbang sinaran mentari pagi?
Mari sayang..., mari!!
pantaskah ku persamakan saat itu dengan tarian Rumi? Atau seperti gubahan Syair-syair Fanjavi?
Kau tahu sayang? saat suara-suara getir bertanya tentang abadimu dan cahayamu, harus kemana ku arahkan mereka? ke tepian sungai Piedra? Atau ke Sain Savin, tempat dimana Cinta kita tegak?
Ku lihat peta, tak ku temukan juga tempat dimana mereka tak gapai mu. Aku takut. Aku takut. Kini, aku lah yang rasakan getir. Aku tahu! Cahaya itu tak lain dari karunia Firdaus. Sebuah tempat dimana adam temukan keabadian. Kini, itu milikmu.
Esok, saat matahari tenggelamkan gelap, mau kah kau maafkanku atas salahku? Semoga!

Saat aku masih punya arti dalam hidupmu, semoga rumput-rumput hijau tak menguning. Ku harap, buah-buah para petani tumbuh subur, secerah Cintaku padamu. Pesonamu, masih getarkan jiwa. Masih memesona alam raya.


0 komentar:

Posting Komentar