Langit menjadi saksi
atas kalut dan getir yang kau rasa. Duduk dan tangismu adalah curahan karunia
atas aliran air di sungai piedra. Bahkan, tanah tepian sungai itu kini
ditumbuhi berkat-berkat Ilahi. Ucapanmu yang sungguh puitis lenyap-hilangkan
ketenangan dan keceriaan hati siang itu; “Mungkin Cinta membuat kita menua
sebelum waktunya—atau menjadi muda, jika masa muda telah lewat”.
**
Kau, Aku, dan mungkin
seluruh manusia, pernah mendengar suara itu. Pada mulanya, kita tak pernah
tahu—apakah panggilan dan larangan yang dikandungnya benar-benar nyata. Kita
tak pernah menyangkalnya. Toh kita sadar—meski dalam keraguan—suara itu ada;
entah nyata atau ilusi. Perlahan, suara itu arahkan kita pada banyak hal yang
tak logis; tepatnya tak sama dengan yang diajarkan sekolah-sekolah kepada kita.
Dan saat seruan tak lagi mampu dicerna, banyak yang meninggalkannya. Bahkan
lupakannya menjadi hal terbaik sepanjang kegetiran di dalam buaian mimpi. Kini,
aku tau; penyesalan telah jemput taqdirku.
**
Mesin-mesin industri
telah lama gantikan cangkul dan palu. Gedung-gedung menjulang tinggi, mencapai
angkasa, angkuh dihadapan langit yang bahkan tak jua dicapai. Polusi, pun
gantikan udara segar yang Tuhan karuniakan kepada kita. Setelah semua ini,
bagaimana mungkin kau masih mengharapkan hal itu? Aku sadar betul, Dia punya
banyak wajah. Namun saat kau ungkap kecantikan, dan keanggunanNya, jangan
pernah harapmu tumpul. Jangan pernah surut langkahmu. Karena Ia, juga Wanita.
Kau tak salah ucap; “Semua kepercayaan besar—Yahudi, Katolik, dan
Muslim—bersifat Maskulin. Para pria lah yang mengendalikan dogma, mereka
menciptakan hukum dan peraturan, dan biasanya semua imam laki-laki.” Tetaplah
percaya pada sisi femininNya.
**
Kau tahu tentang ucapan
wanita itu? Ia menceritakan siklus hidup. Sebuah taqdir kekal yang liputi kita
semua; lahir, tumbuh, berkembang, tua, dan mati. Ini lah kuasa atas kuasa. Ini
lah Rahmat di atas Rahmat. Bukankah datang berarti kembali?
**
Pilar, inginkah kau
dengar bujuk rayuku? Bukan sesuatu yang muncul dari kegundahan menyaksikanmu.
Jauh melampaui itu, aku terkesima pada langkah awalmu. Dalam Tradisiku, kami
kenal pepatah; “Rumahku, Surgaku”. Dan wanita itu, bercerita tentang Rahim
Bunda. Dan kalian para wanita, tubuh pun ikuti irama bulan. Lemah bukan berarti
tiada daya. Namun memang alam gariskan Surga sebagai lahan kerja bidadari.
Bukankah cerita kalian tentang Surga pantas kami dengar setiap hari?
**
Air dan tanah bentuk
kehidupan abadi; kalian adalah air, sedang kami—para lelaki—adalah tanah.
**
Jangan bicara begitu!
Bukankah tempat asal selalu dirindu? Bukankah ia adalah bagian dari kenang yang
tak luput? Masa lalu pasti berarti. Rumah yang ditinggal, pasti harapkan mu tuk
kembali.
**
Wanita yang terbiasa
dengan gedung dan mesin-mesin industri, telah melupakan panggilan batinnya.
Diberkati lah kau, yang bersama dengan rumput-rumput hijau juga sapi dan
gembala. Diberkatilah kau yang masih mendengar suara hatimu.
**
Bicara tentang
kemurnian, tentu ia sesuatu yang baik. Bukankah segalanya bermula dari
kebaikan? Hari pertama..., Bapamu melihat kebaikan. Hari selanjutnya, saat
terang dan gelap di pisahkan, Bapamu pun melihat kebaikan. Selanjutnya, Air
dari darat, itu pun kebaikan. Sampai hari yang ke-tujuh, segalanya masih baik.
Kita lah yang merusak kemurnian. Menggoreskan luka dalam yang juga teriakan
rasa sakit.
**
Orang-orang yang mencoba
membunuh raga melanggar aturan Tuhan. Yang mencoba membunuh jiwa juga melanggar
aturan Tuhan. Kita tak pernah bisa pisahkan bentuk dari
isi. Toh bentuk tak kan berarti jika tak diselami, dan isi tak kan bertahan
tanpa bentuk. Kini, kita hanya diperintah tuk lampaui bentuk.
**
Kita kehilangan kontak
dengan kehidupan. Manusia terasing dari bumi. Seorang ayah, terasing dari
keluarga. Kita semua adalah orang asing. Mesin-mesin telah gantikan peran kita.
Gerak tak lagi penting; karena apa yang dianggap penting adalah menciptakan
gerak. Ini pembunuhan! Dan kita adalah tersangka yang juga korban.
**
Mata rantai penghubung
tak pernah sebatas “hanya”. Bahkan, saat kita berharap tuk kembali, ia adalah
segalanya. Ia adalah apa yang hantarkan kita pada permulaan yang juga tujuan.
**
Yang menemukan Cinta
pastilah orang gila. Karena mencintai berarti kehilangan
kendali.
**
“Cinta adalah perangkap.
Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.”
Kecurigaanmu tak dangkal, namun salah. Domba-domba pun mencurigai gembala,
sebagaimana mereka mencurigai serigala. Jangan kira Cinta punya sisi gelap,
karena ia adalah terang itu sendiri. Mata kita lah yang selalu melihat gelap.
**
“Ada orang-orang yang
harus berdebat dengan orang lain, kadang-kadang bahkan dengan diri dan
kehidupan mereka sendiri. Karenanya, mereka mulai menciptakan sebuah sandiwara
dibenak mereka, dan menuliskan skenarionya berdasarkan perasaan frustasi
mereka.”
**
Ya! Mimpi selalu butuh
nafas. Dan mimpimu, butuh nafasmu. Hanya kau yang tahu bagaimana untuk terus
hidupkan mimpimu. Namun kau keliru jika menganggap mimpi adalah rekayasa yang
kau buat untuk kesenangan. Mimpi, adalah karunia yang bahkan hidupkan dirimu.
**
Bunda adalah pengantin
dan mempelai kosmik. Ia ciptakan sebuah generasi baru; generasi yang tenggelam
di dalam cinta, hidup, dan melebur bersamanya. Pada akhirnya, generasi itu
adalah Cinta.
**
Kabut, tipis atau tebal,
adalah air. Ia tak pernah tutupi keindahannya, karena indahnya telah tutupi
selainnya. Air telah merahmatkan hidup. Mengaruniakan ketenangan dan
kebahagiaan. Mengobati dahaga saat diri merasa gundah. Air, disebut di
Genesis—sebuah permulaan dari Rahmat Ilahi—“Ketika Roh Allah melayang-layang
diatas air..., dan di akhir dari Wahyu, “Roh dan pengantin perempuan itu
berkata, Marilah! Dan barang siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata,
‘Marilah!’Dan barang siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barang siapa
yang mau, hendaklah ia datang mengambil air kehidupan dengan Cuma-Cuma”
**
Pilar! Aku mengenalmu,
seperti aku mengenal diriku. “Cinta memiliki suaranya sendiri, dan berbicara
untuk dirinya sendiri.”; begitu kau berucap. Kau tahu, Sang Alkemi pernah
berkata-kata tentang sesuatu yang mirip; “Pada Hakikatnya, segala sesuatu
adalah satu”.
**
Gelap memang bukan
terang. Namun keduanya adalah satu dalam perbedaannya. Jika tak ada gelap,
bagaimana akan ada terang? Satu hal yang penting dari gelap dan terang tak lain
adalah Cinta. Orang-orang tahu, bahwa Cinta akan membawa seseorang ke suatu
tempat. Ke sebuah taman, atau gurun kesengsaraan. Entah ke neraka atau Surga,
Cinta selalu membawa kita kepada hal yang baru.
**
Sebuah pesan penting
yang harus kau dengar; saat gedung dan mesin-mesin telah gantikan keserasian,
orang-orang enggan menerima Cinta. Ini karena pepohonan dan rumput-rumput tak
lagi berkata-kata. Ini karena suara sumbang yang terdengar dari segala yang
baru. Ini karena Cinta tak lagi melihat kita. Semoga, berkat ilahi tercurah
kepadamu wahai kasih.
**
Kita semua memang harus
kembali ke tempat asal. Jika kita enggan, sesuatu akan bantu kita tuk kembali.
Kemarin, saat aku duduk di atas altar gereja, aku melihat lukisan Sang Bunda
bersama dengan putra kecilNya. Sepintas, terlihat Bunda sedang menggendong
anakNya. Padahal kalau mata lebih jelih, Yesus lah yang mengangkat Bunda; Satu
TanganNya berada di punggung Bunda, dan yang lain, menunjuk keatas. Yesus
membawa Bunda ke langit. Mengembalikan Sang Bunda ke pangkuan mempelaiNya.
**
“Iman Sekecil butiran
pasir pun akan memampukan kita memindahkan gunung.” Se-dari
dahulu, aku mencari Iman di tempat-tempat dimanapun aku bisa. Aku mencari
kejutan-kejutan baru, yang dibicarakan orang-orang. Aku mencari Tuhan, di luar
diriku; padahal kejutan terbesar di dalam hidup adalah diri sendiri.
**
Sungguh bodoh! Aku dan
teman-temanku bertamasya ke taman main anak-anak. Disana, kami lihat sebuah loudspeaker
yang mengeluarkan suara. Teman-temanku terkesima melihatnya; mereka berkata
bahwa benda mati itu lah yang bersuara. Sungguh bodoh orang-orang yang
mengatakan benda mati telah berbicara.
**
Diberkati lah kalian
yang memberikan tubuh kepada Tuhan. Membiarkan Tuhan bekerja melalui Tubuh
kalian.
**
Seorang manusia yang
bimbang tak dapat menghadapi kehidupan dengan penuh martabat.
**
Seorang filusuf
besar—Descartes—pernah berkata, “Keragu-raguan adalah jalan menuju kepastian”.
Bagaimana mungkin kita akan membangun rumah di atas pondasi yang rapuh?
Bukankah semuanya akan hancur sebelum kita memiliki rumah?
**
Bertahun-tahun aku
melawan hatiku, karena takut mengalami kegetiran, penderitaan, dan
ditinggalkan. Namun kini aku tahu cinta sejati berada diatas segalanya, dan
lebih baik mati daripada gagal mencintai.
**
Memang berat menggapai
Kasih. Sebuah kacang polong pun harus mengalami penderitaan sebelum ia siap
untuk dimakan. Tapi betapa banyak orang yang tak hargai Cinta? Betapa banyak
orang yang tinggalkannya demi kesenangan semata? Kita harus siap atas segala
hal; kesendirian, kegetiran, dan rasa sakit. Betapa pun resiko yang harus
dibayar, Cinta sungguh berarti.
**
Betapa kita selalu
berlari dari resiko-resiko yang ada. Menerima Cinta, mungkin seperti dipaksa
menuju lantai 100 dari sebuah bangunan; ketika kau gagal, itu artinya melompat.
Dan jika kita menolaknya, itu berarti hanya sampai di lantai tiga; toh tidak
ada hidup tanpa resiko. Bukankah sama sakitnya, entah itu melompat dari lantai
tiga, atau seratus? Barangkali seperti itu.
**
Cinta selalu butuh
keberanian. Jika masih ada rasa takut, itu berarti kita tidak sungguh-sungguh
mencintai. Jika kita benar-benar menginginkan sesuatu, alam akan
membantu kita. Jika kita inginkan Cinta, Cinta akan nyatakan dirinya. Dan jika
seseorang benar-benar mencintai kita, itu artinya semua orang mencintai kita. Memang
butuh lebih dari keberanian untuk mengakui hal ini.
**
Kita adalah bagian dari
mimpi-mimpi Tuhan, dan Ia ingin mimpiNya bahagia. Jika kita mengetahui bahwa
Tuhan menciptakan kita demi kebahagiaan, kita harus menganggap segala sesuatu
yang mendatangkan kesedihan dan kekalahan adalah ulah kita sendiri. Itu lah
alasan kenapa kita selalu membunuh Tuhan, entah diatas kayu salib, dengan api,
lewat pengasingan, atau di dalam hati kita sendiri. Manusia
memang kejam.
**
Pilar, Kini aku menarik
diri dari keramaian. Bukan karena membencinya, tapi karena kesendirian akan
mendatangkan keheningan. Dan aku mencintai apa yang datang. Kau tahu? Aku
benar-benar sadar; selama ini tak sesaat pun aku mampu benar-benar beriman.
Padahal aku tahu apa itu iman.
**
Saat berbicara tentang jiwa
dunia, orang-orang menertawakanku. Mereka mengatakan bahwa aku tak lebih dari
seorang penyair bodoh. Seorang penyair, yang sama sekali tak mengerti tentang
jiwa. Aku tak tahu, aku tak mengerti; siapa yang sebenarnya bodoh?
**
Banyak orang yang
berbicara tentang ilusi. Tentang gedung-gedung tinggi pencakar langit, pabrik
yang hasilkan polusi dan limbah, uang yang tak lain hanya kertas-kertas
murahan, atau kertas-kertas saham yang selalu menjadi taruhan bagi sebuah
bangsa. Aku tak mau mendengarnya, aku takut menjadi gila.
**
Kebahagiaan macam apa
yang kita cari di dunia ini? Lagipula, dunia telah menjadi kesengsaraan; sebuah
rong-rongan baru bagi kesedihan dan penderitaan. Lantas, apa lagi?
**
Banyak orang yang
mencari keajaiban diantara kerumitan. Mereka lupa, bahkan hal yang paling luar
biasa, berada ditengah-tengah kesederhanaan.
**
Semua manusia adalah
petualang. Namun tak banyak yang mau menerima petunjuk. Wajar, bila tak sedikit
yang tersesat.
**
Aku ingin sepertimu.
Menjadi pencari yang diberkati. Yang Di Cari telah hadirkan diriNya
dihadapanmu. Lalu, aku pun cemburu.
**
Betapa lama aku
mengagungkan kemurahan Tuhan. Menyanjung dan memuji-mujinya, seraya mengukuhkan
jawab atas tanya; “Apakah aku murah hati?” mana yang lebih murah hati; yang
menerima kemurahan, atau yang memberi?
**
Menyatakan diri berjalan
diatas jalan yang benar? Aku kira tak masalah. Menganggap hanya jalan kita yang
benar? Ini keangkuhan, ini pembunuhan!
**
Kehidupan telah ada
sebelum kita dilahirkan, dan akan terus ada setelah kita meninggalkan dunia
ini. Begitu pula Cinta; Cinta telah ada sebelumnya, dan
akan berlangsung selama-lamanya.
**
Cinta tidak berubah,
manusia lah yang berubah.
**
Pilar! Mengapa kau tak
pulang? Mengapa malah tangisi kepergian? Mengapa kau menunggu jawab atas tanya
yang tak pasti? Saat luka-luka tak lagi terobati, apalagi yang kau tunggu?
Masih sanggupkah bertahan ditepi sungai kesengsaraan ini?
Pagi ini, angin sejuk
tiupkan rindu padamu. Bisikkan Cinta, yang kau pilih. Singkirkanmu dari
kebiasaan lama terkutuk itu. Santai saja! Tangismu bukan kutukan, pedihmu bukan
kesengsaraan. Ia, bagian dari derita yang jeritnya tak terpahami. Ia, tak lain
adalah bahagia yang tertunda.
Aku mematut-matut diri,
agar kasih sampai siang ini. Duduk, bersama harap yang tak juga nyatakan
dirinya. Memaki-maki kesalahan tempo lalu, untuk jemput ingatku padamu.
Kau tahu? Bodohnya aku
saat tak raih cintamu. Aku masih mencaci-maki diri atas kesalahan itu. Masih
seperti itu.
Jangan marah lagi
sayang..
Jangan lagi! Tahan lah
amarahmu, redam lah sengsara di dalam batin. Buang, biar ia pergi bersama
derasnya alir air sungai. Kau dengar gemercik air di antara bebatuan? Jika
dengar, dekap lah aku...
Dekap aku sayangku...
Semesra dekapmu dahulu
diranjang kamar tidurmu. Seperti saat kita sebut-sebut nama Tuhan di dalam
Rindu dan Cinta. Seperti saat kita berdzikir malam itu. Kau memelukku, aku
menciummu. Bukankah sakralnya Cinta telah kalahkan tumpukan berlianmu? Bukankah
ia lebih hangat ketimbang sinaran mentari pagi?
Mari sayang..., mari!!
pantaskah ku persamakan
saat itu dengan tarian Rumi? Atau seperti gubahan Syair-syair Fanjavi?
Kau tahu sayang? saat
suara-suara getir bertanya tentang abadimu dan cahayamu, harus kemana ku
arahkan mereka? ke tepian sungai Piedra? Atau ke Sain Savin, tempat dimana
Cinta kita tegak?
Ku lihat peta, tak ku
temukan juga tempat dimana mereka tak gapai mu. Aku takut. Aku takut. Kini, aku
lah yang rasakan getir. Aku tahu! Cahaya itu tak lain dari karunia Firdaus.
Sebuah tempat dimana adam temukan keabadian. Kini, itu milikmu.
Esok, saat matahari
tenggelamkan gelap, mau kah kau maafkanku atas salahku? Semoga!
Saat aku masih punya
arti dalam hidupmu, semoga rumput-rumput hijau tak menguning. Ku harap,
buah-buah para petani tumbuh subur, secerah Cintaku padamu. Pesonamu, masih
getarkan jiwa. Masih memesona alam raya.

0 komentar:
Posting Komentar