Senin, 12 Januari 2015

RESENSI THE ALCHEMIST (1)

HIDUP YANG TAK BIASA
Kebanyakan orang—jika bukan semua—telah menjalani hidup untuk dirinya sendiri; lahir, belajar, bekerja, tua, dan mati. Barangkali rumusan seperti itu sudah diketahui hampir semua orang. Jika hidup dibangun dengan kesungguhan, dan pada akhirnya kita akan mati, lantas untuk apa gerangan kehidupan itu? Keadaan yang seperti ini diperparah dengan pengetahuan kita tentang kematian, bahkan sebelum kematian itu datang.
Saya, dan kita semua mengetahui hukum-hukum moral yang menjadi batasan bagi tindakan kita, melalui agama dan kitab sucinya. Para Imam, guru-guru bijak, dan pendeta telah mengabarkan bahwa hidup akan segera berakhir. Apa yang abadi tak lain adalah keabadian itu sendiri; barangkali melebur ke dalam keabadian adalah pilihan yang terbaik. Jika tidak, maka segera mungkin kita merasa enggan untuk hidup; toh pengakuan terhadap kefanaan adalah keniscahyaan.
Puluhan, ratusan, ribuan, bahkan lebih dari 2/3 penduduk bumi setiap pagi akan bangun untuk mempersiapkan dirinya menghadapi hari-hari yang segera mungkin akan berlalu. Beberapa beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi, beberapa yang lain bermalas-malasan enggan bangun pagi, dan menunggu panasnya matahari membakar punggung mereka, dan yang lain bergegas untuk menghadapi hidup guna meraih keinginan-keinginan mereka.
Mereka yang pantas mendapat apresiasi adalah mereka yang penuh semangat menghadapi hidup, dan yang bermalas-malasan, barangkali hidup telah berakhir baginya. Mereka yang bersemangat akan bertindak sesuai dengan batas-batas keinginan mereka, dengan acuan kemana hidup akan dibawa. Sedang mereka yang bermalas-malasan, akan tetap mati ditengah hidup yang benar-benar berwarna; ada dua kemungkinan untuk orang semacam ini: pertama, mereka tak lebih dari mayat yang tidak benar-benar hidup. kedua, mereka adalah orang-orang yang seluruh keinginannya telah tercapai.
Kita tak perlu mempersoalkan yang bermalas-malasan. Baik yang pertama atau yang kedua, toh akan segera di-geser—baik dengan baik-baik atau secara paksa—dari kehidupan.
Sedang mereka yang menghidupi seluruh diri dengan kehidupan untuk mencapai keinginan mereka, akan melakukan banyak hal. Mereka akan memberi warna diatas bumi. Mereka adalah pena-pena yang bergerak secara teratur, untuk menulis diatas sebuah kertas yang memang sudah penuh warna. Sialnya, pena-pena itu sama sekali tidak memberikan warna baru; mereka malah mengeruk warna yang sudah ada, menghisap tinta-tinta semesta, dan tanpa sadar, jika warna-warna itu selalu diambil oleh pena-pena yang dipenuhi keinginan, barangkali pena-pena pun akan ikut punah bersama semesta.
Tapi tak jadi soal. Toh beberapa yang lain memiliki keinginan untuk mengembalikan warna yang telah diambil saudara-saudaranya. Mereka adalah orang-orang arif yang di saat diam pun telah memberi warna baru. Ketika mereka berbicara, kata-katanya penuh makna; kata-kata akan segera hilang, tapi makna dan pelajaran akan abadi.
Untuk para pejalan yang melintasi jalan hidup dengan biasa, barangkali kata-kata seorang raja yang ditemui santiago (Tokoh utama dalam cerita)  sebelum kepergiannya akan sangat membantu; “Jika kita benar-benar menginkan sesuatu, semesta akan membantu kita untuk mewujudkannya”.
Paulo Coelho telah menyinari hati para pembacanya dengan semangat universal yang telah lama disuarakan alam. Namun dia membuat suara-suara yang tak dipahami semua orang, menjadi mungkin untuk dipahami. The Alkemi, bercerita tentang bagaimana mewujudkan keinginan-keinginan kita di dalam hidup. Walau diakhir, mungkin Santiago akan segera bertanya; “Apa yang sebenarnya Aku inginkan?”.
Gembala Yang Menjadi Domba
Santiago adalah gembala yang ulet—sebagaimana kita, telah menjalani kehidupan setekun mungkin. Ia memilih menjadi gembala karena mencintai petualangan, kita pun tak berbeda; kita menginginkan hari demi hari menjadi berbeda. Sayangnya, keinginan seperti itu telah didapatkan seorang gembala, sedang kita yang bergaul dengan kursi dan meja, pena dan kertas, mesin-mesin industri, gedung-gedung tinggi, hampir setiap hari, hidup terasa sama.
Anak gembala itu berjalan menyusuri padang-padang rumput, menjelajahi semua tempat yang mungkin dijelajahi untuk memberi makan domba-dombanya. Ia berjalan sendiri—domba-domba bukan “Diri”—mengitari alam, bersama semangatnya. Hingga suatu waktu, ia menemukan seorang gadis yang jelita; anak dari seorang pembeli wol. Memang menjadi rutinitas gembala untuk menjual wol yang mereka dapat dari ternak-ternaknya. Kita pun tak berbeda; kita semua terbiasa memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis, untuk menyambung kehidupan yang sebagian besar orang masih bertanya-tanya, Untuk apa gerangan?
Santiago, merasa hidup telah berubah. Ia menemukan kecantikan; bukan “Cantik yang biasa”. Segera mungkin bayang-bayang untuk menetap disuatu tempat, hidup bahagia bersama gadis ini terlintas dikepalanya. Ia membayangkan bagaimana jadinya kehidupan bila berteman jelita? Barangkali hidup akan berbeda. Suatu waktu saat menjual wol nya, ia bercerita banyak bersama gadis itu. Menceritakan hari-harinya yang luar biasa, petualangan tiada akhir yang ia jalani, dan tentu saja menyembunyikan kepedihan-kepedihan yang tak lagi pedih. Ia berharap gadis itu mau ikut berpetualang. Detik, menit, dan jam-jam telah berlalu, Mentari akan segera menyinari sisi lain bumi, dan si penjual wol memanggil anaknya masuk kerumah, sedang si gembala tak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan si gadis pergi memenuhi panggilan ayahnya.
Seperti biasa, setelah seharian penuh menjajahkan kain wol yang secara sukarela diberikan domba kepadanya, ia pergi ke tempat dimana domba-dombanya berada. Beristirahat dari kerja yang seharian penuh merenggut umurnya.
**
Hampir setiap orang bernasib sama dengan Santiago; berjalan diatas jalan kehidupan, dan terkubur diatas jalan yang sama. Pada suatu malam, Santiago masih tak bisa tidur. Ia melihat domba-dombanya yang sudah pulas. Ia sadar, esok hari ternaknya akan bangun diwaktu yang sama seperti pagi tadi. Domba-domba, terbiasa dengan gembalanya; mereka akan bangun sebagaimana gembala bangun.
Sebagaimana kita, Santiago pun memiliki masa lalu. Ayahnya pernah bercerita tentang kastil-kastil mewah di negeri mereka, perempuan-perempuan cantik, dan segala karunia yang telah ditempatkan ditanah mereka. barangkali ayahnya ingin, Santiago bisa hidup bahagia dinegeri ini suatu saat nanti. Tapi anak itu punya keinginan yang berbeda; ia ingin menjadi petualang. Ia melihat orang-orang datang silih berganti, melihat negeri mereka dengan segala kemegahannya; siapa yang tak kenal Spanyol dengan kastil-kastilnya? Bahkan sebelum mesin dan gedung-gedung pencakar langit ada, negeri itu sudah seperti langit. Ia merasa iri dengan mereka yang bisa melihat tanahnya, sedang dirinya tak mampu melihat negeri orang-orang itu.
Santiago tidak lahir dari kalangan berada, ayahnya mengatakan bahwa “dikalangan kita, hanya gembala yang biasa bepergian” dan “Aku ingin menjadi gembala” katanya dengan yakin. Seorang ayah, hanya bisa memenuhi ingin-ingin anaknya sesuai dengan kemampuannya. Hanya 3 koin emas yang menjadi bekal Santiago, dan ia pun menjadi gembala.
Barangkali beberapa dari kita hanya memiliki bekal minim untuk menjalani hidup. Tapi hidup tetap memaksa kita untuk berjalan; bahkan jika kita tak berjalan, toh kehidupan akan terus berjalan. Sialnya, kita berada di dalam roda kehidupan itu. Berputar bersama, bergerak ke arah mana kita akan dibawa.
Santiago masih tak bisa memejamkan mata. Ia merasa rindu dengan gadis kota itu. Tak apa Santiago... tidurlah! Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya.
**
Larut dalam kebiasaan—atau apa yang disebut Jostein Garder dengan tenggelam dalam bulu-bulu kelinci yang nyaman—mungkin akan membuat kita menjadi diri yang biasa. “Kita adalah apa yang kita perbuat” atau “kita adalah apa yang biasa kita lakukan”; barangkali seperti itu. Setelah itu, secara alamiah masyarakat akan memberikan “Cap” melalui ego mereka, dan tentu saja kepada ego kita. “Anda seorang Nelayan” karena kita mengisi hidup dengan memancing. “Anda seorang petani” karena kita mengisi hidup dengan bertani. Anda seorang “Pelajar” karena kita mengisi hidup dengan belajar. Terlepas dari kebiasaan, sebenarnya siapakah kita?
Santiago seorang pengembala yang menghabiskan hidup mengembalakan domba-dombanya, tanpa sadar ia telah menjadi kawanan domba. Ia hanya sekedar satu dari puluhan domba yang menempati posisi pimpinan domba. Ia hanya satu dari sekian banyak domba yang terbiasa mengisi perut, membuangnya, lalu tidur, dan pada akhirnya satu-persatu akan digeser dari kehidupan. Untuk apa santiago ada? Sekedar untuk menjadi pimpinan domba?
Kita akan segera terhenyak ketika diberitahu tentang perbendaharaan yang dipenuhi kekayaan. Setiap kita diciptakan untuk menemukannya. Seorang anak gembala hampir tak percaya ada sesuatu yang seperti itu. Ia menemui ahli perbintangan dan para peramal untuk mencari informasi mengenai harta itu. Namun informasi yang diterima tak lebih dari sesuatu yang lumrah telah diketahui. Jika hanya untuk informasi yang seperti itu, aku tak perlu menemuimu. Begitu ucapnya kepada seorang peramal. Sebagaimana Santiago, kita pun sering lupa bahwa harta yang paling berharga sering terletak ditengah kesederhanaan.
Seorang Raja dari Salem lah yang telah membukakan jalan baginya untuk menempuh perjalanan panjang menuju harta karun itu. Ia membeli seluruh domba Santiago, dan uangnya adalah bekal awal untuk melakukan perjalanan. Bukankah menjual domba adalah solusi yang pasti lebih dulu dipikirkan Santiago ketimbang Raja itu?; pastinya seperti itu. Namun ketakutan-ketakutan, pertanyaan-pertanyaan, dan serangkaian pikiran-pikiran yang tak pantas untuk dipikirkan membuatnya enggan untuk mengambil langkah. Seorang Raja lah yang membantunya melangkah.
Hati adalah Raja bagi diri yang ringkih. Ia mengabarkan sesuatu yang layak didengar. Ia menundukkan kesombongan dibawah pengetahuan. Hati, lebih dari seonggok daging memampukan kita untuk melangkah; lebih dari sekedar memikirkan beberapa hal yang tak penting.
Keluar dari zona yang biasa, menuju dataran arab yang keras. Ia menemukan hal-hal luar biasa ditengah jalan. Ketika sampai disebuah kota, ia menanyakan perihal jalan untuk sampai ke mesir. Tapi kali ini keberuntungan tak berpihak padanya. “Perampokan” yang telah menghabiskan seluruh bekalnya; hambatan, atau sekedar persiapan?
**
JANGAN LUPAKAN PERBENDAHARAAN ITU!
Kita boleh melakukan koreksi atas perjalanan hidup yang singkat ini. Bahkan kita lah yang paling berhak atas itu. Hambatan demi hambatan telah mendatangi kita ditengah perjalanan, dan sialnya banyak dari kita yang berhenti. Meninggalkan pencarian, dan merasa nyaman tinggal bersama hambatan. Toh pada akhirnya pikiran kita beralih pada sesuatu yang dinilai lebih penting. Lebih penting? Adakah yang lebih penting dari perbendaharaan itu? Adakah yang lebih penting ketimbang jawaban atas tanya, “Mengapa  aku diciptakan?”.
Seorang anak yang tersesat ditengah-tengah kesusahan dengan sesuatu yang membebani hidup, harus tinggal disebuah daerah yang bahkan bukan tanah kelahirannya. Bulan demi bulan berlalu, barangkali ia lupa apa tujuannya datang kemari. Berpikir ini adalah tujuan? Mesir masih sungguh jauh bukan?
Seorang pedagang memberinya makan, menghidupinya dengan gaji yang tak kecil: tentu bukan tanpa alasan—pedagang itu sadar bahwa Santiago datang dengan baju berkah. Kedatangan Santiago seiring dengan bertambahnya rezeki si pedagang. Pendapatan meningkat, popularitas didepan mata, kehidupan mendukungnya. Ini karena Santiago.
Hingga suatu hari si pedagang bercerita tentang harapannya yang tak pernah tercapai; pergi ke mekkah, tanah suci yang dikunjungi setiap Muslim di dunia ini. Santiago terhenyak, terbangun dari tidurnya. Ia masih punya sejuta mimpi yang harus dijemput di mesir. Tak mudah meyakinkan diri untuk melangkah—banyak suara yang didengar, banyak jeritan yang keluar dari dalam diri. Apakah Santiago harus pulang ke andalus? Atau melanjutkan perjalanan ke mesir?

Sekarang ia punya banyak uang seperti mula-mula keberangkatannya. Tapi ingin-nya tak lagi sekuat dahulu. Waktu memakan habis harapan, menjemput duka atas datangnya semu, membalut luka dengan darah yang terus mengalir. Bukankah hidup selalu seperti itu?

0 komentar:

Posting Komentar