Rabu, 15 Januari 2014

PLURALISME: KENISCAHYAAN DAN BUKAN PRINSIP

Pluralisme menjadi wacana hangat beberapa dekade terakhir. Ini bukan berarti Pluralisme wacana baru bagi dunia abad ini, dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Secara Historis, kita semua pernah mendengar serangakaian cerita tentang “Helenisme”. Setelah Scorates, Plato, Aristoteles dan sampailah di Abad keempat SM. Disini dimulai sebuah tantangan baru bagi Moralitas penduduk dunia. dunia menawarkan suatu gagasan penting bagi Makhluk Hidup, dan tentunya dikhususkan untuk manusia.
Ketika Athena mulai mendekati kehancurannya, dan disaat yang sama kota para Filusuf itu kehilangan peran dominannya dikarenakan penaklukan yang dilakukan Alexander Agung (356-323 SM.).


Alexander Agung ini telah melakukan penaklukan atas kerajaan persia. Dia meraih kemenangan besar atas pertempuran itu. Bahkan karena keluasan penaklukan yang dilakukannya, ia menyatukan dunia timur, Mesir, hingga India, dengan peradaban Yunani.
Bayangkan jika penyatuan itu juga menandakan percampuran Budaya, bahkan Agama. Tidak ada lagi dunia yang dibatasi dengan Agama, Budaya, Warna Kulit (kemungkinan). Pada dasarnya, diperiode ini lah manusia sudah mulai belajar untuk menghargai Pluralitas. Percampuran ini berlangsung kurang lebih 8 Abad (Sejak Abad keempat SM – Abad keempat M). tepat pada Abad pertama M. seorang juru selamat lahir di Nazeret. Ia membawa satu gagasan penting tentang Agama. Dan karenanya, ia juga harus rela berbenturan dengan Pemahaman-pemahaman Yunani, India, dan Pemahaman Timur lainnya. Hasil dari gagasan Juru selamat itu pun, hampir mendekati Nihil.


Dan ketika orang-orang membicarakan sang Juru selamat yang kembali Hidup dari kematiannya, St. Paulus menjadi bagian kecil dari orang-orang yang mendakwahi Agama Sang Juru Selamat. Ia bahkan menda’wahkannya sampai ke Yunani. Sebelumnya, diwilayah kekuasaan Roma, Agama Kristen yang dibawa oleh Yesus, ditolak oleh kebanyakan orang. Namun, tak sampai seabad setelahnya, mulai banyak pembangunan Gereja, dan tentunya dengan corak yang berbeda-beda. Maka tidak berlebihan jika mengatakan Kristen sangat rentan bercampur dengan Budaya. Ini karena penyebarannya terjadi di masa-masa Helenisme.


Penyebaran Agama Kristen di dunia belahan barat taampak begitu pesat. Kita tidak pernah mengetahui bagaimana Agama ini mampu tersebar sedemikian cepat. Dan membawa dampak yang juga besar bagi fokus perhatian para pemikir dimasa-masa ini. Penulis, menangkap semacam Indikasi tawar-menawar dalam penyebaran Agama ini. Indikasi ini bagaimana pun, tidak bisa dijadikan Alasan untuk menyerang konsep Keimanan orang-orang Kristen. Dalam relasinya dengan Indikasi ini, itu berarti Agama Kristen tersebar dengan Damai dimasa-masa awalnya. Dan disaat ini pula lah, kita dapat menyimpulkan bahwa Agama Kristen menjunjung tinggi sikap Toleran.


Namun, setelah penyebaran itu berlangsung lama, dan orang-orang mulai menjalani Ajaran-ajara etika Agama Kristen-bahkan memakai Kristen sebagai Sistem hidup berNegara, dunia barat dilanda satu fenomena mengerikan yang saat ini kita mengenal masa itu dengan nama “The Dark Age”. Setelah masa-masa Helenisme selesai, dan dunia kembali dipimpin oleh satu Agama, dengan kekuasaan yang besar, sikap Toleran yang juga berarti mengakui Pluralitas, memudar dari kancah perhatian Dunia.


Kita pernah mendengar pengadilan Inkuisisi yang diselenggarakan Raja Ferdinand, setelah penaklukan spanyol. Kejadian ini juga Indikator hilangnya Pluralisme. Atau kisah tentang seorang pemikir yang meyakini Matahari sebagai Pusat dan dengannya Planet-planet mengitarinya, dihukum oleh Gereja karena diyakini telah melakukan pencemaran Agama. Pada tahap ini, Masyarakat dunia tidak lagi mampu menghargai Keberagaman sebagai sisi kemerdekaan setiap Individu.



Globalisasi dan Masa Pencerahan Dunia Barat (Renaisans)


Renaisans Italia, menandai babak baru bagi Dunia. masa ini menghasilkan banyak pemikir hebat yang mungkin saja kemunculannya dipengaruhi oleh kejenuhan mereka untuk terus tunduk kepada sistem Gereja yang kejam. Akhirnya, orang-orang seperti Voltaire dan Montesquie menggagas sebuah pemahaman baru untuk dunia yang baru. “Demokrasi, HAM, Sekularisme” menjadi fokus utama para pemikir dimasa ini. Tak lama berselang, Revolusi besar terjadi di Dua Negara besar di Eropa. Revolusi ditandai dengan banyaknya mesin mesin Industri yang dikeluarkan, dan menjadi Fokus utama masyarakat Dunia.
Sampai hari ini kita mengetahui bahwa Industri merupakan hal yang memberikan sumbangsih besar bagi kehidupan Masyarakat Dunia. karena pesatnya kemajuan Industri, bahkan Sistem Informasi, dan Transformasi, Dunia menjadi begitu sempit. Bahkan waktu yang merupakan batasan antar penduduk Dunia, bukan lagi masalah yang besar dimasa ini. Begitu pun dengan Jauhnya jarak antara satu tempat dengan yang lainnya pun, mampu dibendung.


“Helenisme” kembali terjadi dengan kemasan yang berbeda. Percampuran Kultur dan Agama pada masa ini, dilakukan dengan Motif yang tidak jauh berbeda dari “Helenisme”. Jika Helenisme ditandai dengan penaklukan Dunia oleh Alexander Agung, maka Globalisasi hari ini ditandai dengan “Imperialisme” dunia barat. Terlepas dari apa-pun motif Imperialisme tersebut, yang pasti hal itu sudah menciptakan Dunia Yang Tanpa Batas.
Beberapa Pemikir besar bermunculan dimasa ini dengan Fokus “Pluralisme”. Bahkan setiap orang dari berbagai Organisasi KeMahasiswaan, merasa berhak mengambil bagian untuk membicarakan hal ini. Hingga masalahnya menjadi begitu Kompleks bagaikan benang kusut yang sudah sangat rumit untuk di-urai. Dalam tulisan ini, Penulis hendak mengurai benang Kusut itu, yang didasarkan pada 2 pertanyaan:
-      
Benarkah Pluralisme adalah hal yang bijak?
-      
Jika ya, Pluralisme yang bagaimana yang harus diterapkan dalam sistem hidup, hingga kita tidak lagi mengalami “Dark Age” seperti yang sudah terjadi dahulu?



Akar Pluralisme Religius Populer


Dalam tahap keyakinan, Pluralisme dapat dilacak dari pengalaman mistis para mistikus Agama. Hampir semua Mistikus memiliki pengalaman yang dikonsepsikan dalam sebuah kerangka berfikir. Dan karenanya, konsepsi pengalaman itu memiliki keberagaman antara satu Mistikus, dengan yang lainnya. Kita mengenal beberapa Mistikus seperti Al-Ghazali, Suhrawardi, Mulla Shadra, bahkan Rumi, memiliki Konsepsi tersendiri tentang bagaimana mereka bisa sampai kepada Yang Mutlak. Namun, sepanjang sejarah, perbedaan konsepsi ini bukan berarti perbedaan mendasar bagi keimanan masing-masing mereka. Sampai pada Abad ini, dimana Ilmu pengetahuan menjadi penentu segala kebenaran, perbedaan Konsepsi ini menjadi hal yang bersifat prinsipil dalam pandangan sebagian Teolog, dan karenanya menjadi wacana Hangat untuk di diskusikan.


Konsepsi Pluralisme religius, dalam sudut pandang pengalaman Mistis, pernah diajukan oleh salah seorang Teosofi terkemuka di Eropa. Yaitu, : John Hick[1]. Ia pernah mengajukan gagasan bahwa “Semua Agama besar itu, bagaimana pun juga merupakan ekspresi dari kebenaran yang sama, walaupun dipermukaan ada perbedaan-perbedaan”. Menurutnya, perbedaan itu didasarkan pada pencapaian realitas Tertinggi Yang tak terdefenisikan. Dia bahkan menggunakan contoh yang pernah dipakai oleh Rumi tentang

Kita semua bagaikan orang buta, dan ketika kita disuruh menyentuh gajah, kita akan memberikan defenisi yang berbeda-beda tentang apa itu gajah. Sebagian kita yang menyentuh ekor, akan mengatakan bahwa Gajah itu panjang, dan sebagian kita yang menyentuh kaki akan mengatakan gajah itu tinggi dan keras seperti Pohon.


Jika Rumi menggunakan Istilah ini dengan maksud menyatakan bahwa tak satu pun dari kita akan sampai kepada Allah kecuali melalui bimbingan seorang Mursyid, John Hick lebih memilih menggunakannya untuk membenarkan pengalaman Religius dari setiap Agama yang berbeda.[2]


Dengan begitu, dapatlah kita fahami bahwa pengalaman Religius saja tidak bisa menjadi landasan yang bisa dipercaya bagi sebuah Kebenaran. Ini karena sulitnya menemukan kesatuan Konsep yang mendasar untuk mendefenisikannya. Terlebih lagi, Islam bukan saja ikatan antara Manusia (secara Pribadi) dengan Tuhan. Islam melebihi dari itu semua, karena ia mengikat manusia dalam kesatuan persaudaraan.
Imam Ali berkata, “Tidak ada Islam tanpa sebuah Perkumpulan”.
Maka, selain dari pengalaman mistis yang bersifat personal, kita juga dapat melacak akar Pluralisme yang bersifat Comunal-Materialis.


Pluralisme: Penerimaan dan bukan Pengambilan



Untuk membedah bagaimana Pluralisme, ada baiknya terlebih dahulu membongkar akar permasalahannya. Yang harus diketahui oleh Masyarakat dunia hari ini, bahwa Pluralisme berawal dari Liberalisme Religius. Liberalisme Religius juga produk dari satu Ideologi Politik, yang hampir satu abad terakhir berkembang di Dataran Eropa. Sebagai suatu Ideologi Politik, amat sulit untuk mendefenisikan kata “Liberalisme”. Yang terpenting, jauh diatas defenisi, Liberalisme memiliki corak yang menjadi Khasnya tersendiri. Katakanlah orang-orang yang menganut faham ini,  selalu menekankan “pentingnya sikap Toleran, hak-hak Individu, dan pentingnya Pluralisme gaya hidup”.
Beberapa pakar politik yang disebut-sebut memiliki paham liberal diantaranya:
-      

Adam Smith (1723-1790)[3]
-      Thomas Paine (1737-1809)[4]
-      Benjamin Constant (1767-1830)[5]
-      James Madison (1751-1836)[6]


Dan beberapa orang yang penting dalam bidang Filsafatnya adalah John Stuart Mill (1806-1873)[7]. Rumit untuk menjelaskan pemahaman Kompleks tentang Figure Filsafat Liberal seperti Mill, yang terpenting, pemikiran Mill selain dipengaruhi oleh beberapa Tokoh, juga dituntut oleh Konteks Eropa yang memang sedang merasa perlunya kebebasan karena dampak Revolusi.


Kebebasan yang menjadi wacana hangat Renaisans Eropa merambat membenturkan diri dengan Agama. Hingga akhirnya, pada tahun 1881 Presiden Amerika Serikat dalam pidato pengukuhannya menjelaskan bahwa, “Tidak ada satu Organisasi Agama apa pun, yang diperbolehkan melakukan perampasan sekecil apa pun terhadap fungsi kekuasaan pemerintah Nasional”. Pernyataan ini berkenaan dengan boleh atau tidaknya Poligami oleh Rakyat Amerika Serikat.


Akhirnya, terjadi benturan yang amat keras antara “Kaum Fasis Kristiani” dengan “Kaum Liberal Kristiani”. Dan benturan ini dimenangkan oleh Kaum Liberal yang ditandai dengan pencantuman terma Toleransi, dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia. Dan dalam waktu yang sama, seluruh gereja-gereja katolik diseluruh dunia, masih saja mengutuk Kaum Yahudi yang berkhianat.
Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa Liberalisme Politik melahirkan Pluralisme, untuk menghapuskan intoleransi Religius yang telah lama berlangsung di dataran Eropa. Dengan begitu maka, seorang pemikir Iran Muhammad Legenhausen, memaknai Pluralisme sebagai “Hasil dari upaya pemberian landasan bagi teologi Kristiani agar toleran terhadap orang Non-Kristen”.[8] Lantas, mengapa kata Toleransi hari ini, lebih mencirikan orang-orang yang tidak berprinsip?. Sebenarnya kurang tepat mengatakan bahwa orang-orang Plural tidak memiliki prinsip yang kokoh. Bahkan tokoh Pluralisme Kristen yang paling terkemuka pun, meyakini kebenaran Agama nya sebagai kebenaran mutlak. Dan disaat yang sama,ia perlu tetap menyuarakan Pluralisme Religiusnya.
Nurcholish Madjid misalnya, hari ini difahami sebagai peletak dasar Pluralisme dalam dunia Islam Indonesia. Pernyataan ini kurang tepat, bila kita merujuk langsung kepada Defenisi Caknur tentang Apa itu Pluralisme:
Caknur berpendapat bahwa Plurallitas adalah Kebragaman, dan Pluralisme adalah kerelaan hati untuk menerima keberagaman itu.[9]
Dalam tinjauan defenisi Caknur diatas, dapat difahami bahwa Pluralisme yang diusung Caknur bukanlah Pluralisme yang membuat pengakuan “Bahwa semua Agama itu benar”, melainkan memberikan apresiasi kepada perbedaan dan menjaga kerukunan. Lebih lanjut, Pluralisme Caknur yang lebih bersifat Tradisional ini dapat dilihat dalam tinjauannya mengenai “Masyarakat Madani” yang benar-benar memiliki prinsip yang dibangun diatas pondasi Historiogarafi kehidupan Rasul periode Madinah.


Dan diakhir, penulis ingin berpesan bahwa menjadi rancu bila memaknai Pluralisme sebagai pengambilan sikap pembenaran terhadap seluruh prinsip keagamaan dan menyatakan terdapat keselamatan yang sama disetiap Agama. Karena tanpa pemaknaan yang seperti ini pun, peradaban Islam diketahui mampu memback-up permasalahan Pluralitas beragama selama 8 abad. Ini terbukti dengan kerukunan hidup Beragama pada Periode Madinah, Khulafa Ar-Rasyiddin, Dinasti Umayyah I, Umayyah II, Abbasiyah, dan Utsmaaniyah. Semuanya mampu memberikan keadilan kepada warga Negaranya yang secara Agama juga beragam.



[1]. Banyak buku-buku yang membahas tentang konsepsi berfikir John Hick. Seperti buku Menyingkap Kebenaran yang ditulis oleh adnan Aslan, atau buku terjemahan yang berjudul “Satu Agama atau Banyak Agama” yang ditulis oleh Muhammad Leagenhausen seorang teolog terkemuka dari Iran.
[2]. Satu Agama atau Banyak Agama. Hal.55
[3]. Lihat buku Satu Agama, atau Banyak Agama yang ditulis oleh pemikir Iran Dr. Muhammad Legenhausen. Karya ini btelah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Lentera. Hal. 22
[4]. Ibid
[5]. Ibid
[6]. Ibid
[7]. Pemikiran John Stuart Mill banyak dipengaruhi oleh Thomas Hobbes, John Locke, dan Immanuel Kant
[8]. Lihat satu Agama atau Banyak Agama Hal. 18
[9]. Dikutip dari Artikel yang berjudul “membedah Pluralisme Caknur”, yang terdapat di Website JIL

0 komentar:

Posting Komentar