a.
Kristus dan Perdebatan Teologi
Pada
tahun 320 M. Mesir, Siria, dan Asia kecil menjadi tempat yang hangat dan
bernuansa Polemik. Ketuhanan, dan Realitas Kemanusiaan dibicarakan oleh semua
orang dari berbagai kalangan. Gereja, dan institusi pendidikan menjadi central
pengkajian dan pemutusan perkara perdebatan. Arius, seorang pembaharu
dizamannya melontarkan satu pertanyaan kepada sang guru. Ia menanyakan tentang:
Apakah Yesus adalah Tuhan?, atau ia hanya seorang manusia biasa?. Pertanyaan Arius
bukan saja didasarkan kepada realitas keTuhanan yang sedemikian Transenden,
yang dengan begitu setiap orang berhak memiliki spekulasi pribadinya
masing-masing. Lebih dari itu, ia mempertanyakan keTuhanan Yesus dan relasinya
dengan kosmologi, dan seluruh ajaran bibel.
Arius,
adalah seorang terdidik yang menguasai bibel. Ia menyatakan bahwa Yesus sama
sekali bukan Tuhan. Karena menurutnya, keTuhanan Yesus sama sekali tidak
memiliki relevansi dengan ajaran ajaran dan doktrin Injil. Perdebatan ini
membuat seluruh dunia kristen gempar. Meski diketahui bahwa pertanyaan seperti
yang dinyatakan Arius, sama sekali bukan hal baru dimasanya, akan tetapi
dikarenakan penguasaan Arius terhadap Injil, ia menjadi pendorong dilakukannya
suatu konsili di Nicea. Konsili ini juga melibatkan sang kaisar: Kaisar
Konstantin, untuk turun tangan dan ikut andil dalam menyelesaikan masalah ini.
Seperti yang akan kita lihat dikemudian hari, penetapan Trinitas didalam Agama
Kristen sebagai kata kunci, digunakan Max Weber untuk menyatakan bahwa ada
Agama yang susunan teologisnya didasarkan pada Kongres.[1]
Arius
pada titik tertentu memiliki kesamaan pemahaman dengan pemahaman Teologia
Platonis. Ia mengatakan bahwa Yesus bukanlah Tuhan itu sendiri. Dengan ditopang
ayat-ayat biblikal, ia mencoba menjelaskan bahwa injil sama sekali tidak
menyebutkan “keTuhanan” Yesus. Kalaupun ada, maka Tuhan yang disebut bibel
dalam pandangan Arius adalah karena kesucian Yesus dan ketulusan
pengorbanannya.
Segala
sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tak ada sesuatupun yang dapat
terjadi.[2]
Maka
dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Arius, dia sama sekali
tidak bermaksud untuk menghina Yesus seperti yang disebutkan oleh
musuh-musuhnya. Arius percaya bahwa orang-orang Kristen telah diberi kesucian,
diselamatkan, serta ikut memiliki hakikat keilahian dalam dirinya. Ini karena
seorang Yesus (dalam hal lain disebut logos), telah menjalani kehidupan seperti
manusia. Dan disepanjang hidup, ia tunduk dan patuh kepada Tuhan, bahkan hingga
kematiannya dikayu salib. Dan karena ketundukannya ini lah, Allah
meninggikannya dan memberi sebutan “TUHAN” kepadanya. Arius
mengatakan”Andaikata Yesus bukan seorang manusia, takkan ada harapan buat kita.
Tak ada yang bisa kita teladani dari hidupnya jika ia adalah Tuhan secara
hakiki. Justru dengan merenungkan kehidupannya yang sarat dengan nilai-nilai
kepatuhan seorang anak, maka orang Kristen pun dapat menjadikan diri mereka
Ilahiah. Dengan meneladani kristus, makhluk yang sempurna, mereka juga bisa
menjadi makhluk ciptaan Allah dengan kesempurnaan yang tak dapat diubah dan tak
dapat berubah.”[3]
Dikubu
lawannya, athanasius memiliki pandangan yang berbeda. Alih-alih mengatakan
bahwa Tuhan itu jauh, namun manusia memiliki kesempatan untuk menggapai
kecintaanNya, ia lebih memilih untuk tidak optimis terhadap nilai-nilai
kemanusiaan. Ia memiliki pandangan bahwa manusia adalah sesuatu yang rapuh, “Kita berasal dari ketiadaan dan akan
kembali kepada ketiadaan jika kita berdosa. Oleh karena itu, ketika merenungkan
makhluknya, Tuhan melihat bahwa seluruh alam ciptaan jika dibiarkan berjalan
dengan sendirinya, akan berubah dan bisa mengalami kehancuran. Untuk menjaga
agar alam tidak kembali menjadi tiada, Dia ciptakan segala sesuatu dengan
logosnya sendiri yang abadi dan mengaruniakan wujud kepada ciptaan.”[4]
Hanya
dengan tunduk dan patuh kepada Tuhanlah manusia bisa selamat dari ketiadaan.
Dan karenanya, jika logos juga adalah manusia biasa, maka mengikuti jalannya
tidak akan memperoleh manfaat apa-pun. Oleh karenanya, secara singkat dapat
dikatakan bahwa ajaran Trinitas yang berkembang selama ini dikalangan Kristen
adalah produk dari pemahaman Athanasius. Ini diperkuat lagi dengan julukan
“Arius” yang hari ini ditujukan kepada orang-orang Bid’ah. Dan karenanya
bermakna “Bid’ah”.
Maka,
klaim-klaim Kebenaran yang diajarkan oleh para biblikal hari ini (Ajaran
biblikal, sesungguhnya bagian dari penafsiran para teolog. Dan karenanya,
penafsiran itu hanya sebagian kecil dari makna substantif bibel), tidak dapat
dibenarkan begitu saja tanpa kritisi yang mendalam dari berbagai aspek. Dan
dapat dipahami, bahwa tanpa kritik yang baik, Dunia Kristen(Dunia Barat), tidak
akan mengalami kemajuan tanpa sebuah kritik dari berbagai kalangan.
b.
Mencari Tuhan sebagaimana adanya
Tuhan
jika ditinjau dari aspek teologia, akan membawa banyak perdebatan. Berbagai
spekulasi bermunculan dari para ahli. Tak pelik, masyarakatpun menjadi bingung
untuk mencari kebenaran sejati. Teologi pada dasarnya memang merupakan ilmu
yang mengkaji tentang keTuhanan, namun untuk mencapai keTuhanan, Teologi
menggunakan relefansi antara Rasio dan Al-Kitab. Seperti yang diketahui oleh
berbagai kalangan teolog, Agama tidak saja mengandung unsur keduniaan, lebih
dari itu, pernyataan pernyataan Kitab Suci, menggambarkan aspek spiritualitas,
dan bahkan eskatologi. Oleh karena itu, jika pun Teologi dijadikan epistemologi
untuk mencari Tuhan sejati, Teologi tidak dapat mengklaim dirinya sebagai yang
paling layak. Itu karena Teologi hanya alternatif(kalau tidak sama sekali) dari
berbagai pilihan epistemik lainnya.
Belakangan,
parenialis seperti John Hick, dan bahkan Karen Armstrong,[5]
menggambarkan satu bentuk keTuhanan yang sejati. Masing-masing mereka
menyatakan menjaga perdamaian Dunia jauh lebih penting ketimbang mempertahankan
pendapat untuk perpecahan yang berkelanjutan. Lebih ekstrem lagi, John Hick
mengembangkan satu bentuk Pluralisme yang baru. Ia bahkan meyakini bahwa
kemungkinan kebenaran Agama lain selain Kristen, sangat memungkinkan.
Kemungkinan ini diperkuat dengan bukti bahwa pengalaman spiritual yang dialami
setiap orang dari berbagai Agama.
Karen
Armstrong menyatakan: “Kaidah emas berarti melihat kedalam hati kita sendiri,
menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak dalam keadaan
apa-pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain”. bisa dikatakan
bahwa Agama yang dikembangkan oleh Karen Armstrong, dan pastinya dengan
perspektif yang dibangun diatas pondasi kekristenan, merupakan Agama
kemanusiaan yang pantas diterapkan dizaman ini. Compassion ini juga terbilang
sebagai penguat bagi para pendahulunya seperti “Agama Cinta”, sebuah Mahakarya
dari seorang John D. Caputo. John D. Caputo, menamakan ajarannya sebagai Agama
tanpa Agama. Dikarenakan Agama yang dikembangkan dalam karyanya, terlihat
seperti tidak bersinggungan dengan bibel, dan karenanya lebih mengandung
aspek-aspek kemanusiaan yang memang menjadi kebutuhan Dunia hari ini. Ya!,
sebuah Dunia yang sedang mengalami krisis kemanusiaan, dan krisis moral.
Aspek
parenial yang dapat ditemukan dalam ungkapan Karen Armstrong,: “Kaidah Emas
membutuhkan pengetahuan diri. Yaitu, meminta kita menggunakan perasaan kita
sendiri sebagai panduan untuk memperlakukan orang lain”.[6]
dalam hal ini, dibutuhkan sebuah kekritisan yang mendalam tentang suatu
perintah Gereja yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, atau sebuah
penafsiran-penafsiran radikal yang diklaim sebagai wujud sempurna dari
penafsiran biblikal. Jika tidak mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, atau
bahkan sebentuk pluralisme Religius, Agama mapan akan menjadi sebuah momok
menakutkan bagi dunia modern. Jika radikalisme dipandang sebagai penafsiran
universal atas bibel, maka konsekuensi yang diterima dikemudian hari memiliki
kemungkinan sebagai berikut:
-
Agama
dijauhi dan menyulut Atheisme
-
Radikalisme
membuat kerancuan dalam teks bibel yang menyatakan “Cintai tetanggamu seperti
dirimu sendiri”.[7]
Dalam
hal ini, mengutip pernyataan Fritchouf Schoun[8]
yang bermakna Agama sebagai pertemuan antara Tuhan sebagaimana adanya, dan
manusia sebagaimana adanya, dapat menjadi landasan keber-agamaan dewasa ini.[9]
Maka, Tuhan sebagaimana adanya adalah Tuhan yang bukan sebuah konsepsi atau
penafsiran, dan Ia adalah Tuhan itu sendiri. Manusia sebagaimana adanya, adalah
manusia yang dengan intelegensi, dapat merefleksikan nilai-nilai Ketuhanan,
yang sebelumnya mencapai pancaran ilahiah keTuhanan dengan inteligensinya.
Disini,
Fritjhouf Schoun ingin menyampaikan bahwa, manusia yang memiliki intelegensi
(Hati), seharusnya mengembangkan Agamanya dalam wilayah “AKU” dan bukan “KAMI”
atau “MEREKA”. Dengan begitu, sebuah kedamaian dalam suasana sulit ini dapat
terwujudkan.
c.
Bapa, Kristus, dan Al-Kitab: Sebuah
manifestasi Cinta Kasih
“Apa
yang sebenarnya aku cintai, ketika aku mencintai dikau Tuhanku”. Pernyataan ini
sering dikutip oleh John D. Caputo dalam mahakaryanya Agama Cinta. Dengan
pernyataan ini, ia menggambarkan sebuah kebingungan yang absolut, namun tetap
dibaringi oleh usaha pencarian tanpa lelah. Dan karenanya, Caputo juga menolak
Absolutis. Gagasan-gagasan cemerlangnya seputar Agama, memang terlihat
sedemikian kabur, sehingga sulit menangkap, setidaknya apa yang dimaksudkannya
dalam goresan-goresan tinta diatas kertas tersebut.
Puncak
terma dalam buku itu adalah “Agama tanpa Agama”. Gagasan ini dibangun atas
dasar pemahaman yang mendalam tentang keberagama-an. Menurutnya, Agama tidak
bisa dipandang secara singular (Dan jika pun bisa, tidak ada agama yang pantas
mendapat sertivikasi kebenaran). Sebab, Agama tidak bisa dipandang sebagai
objek yang berdiri sendiri. Hal ini karena sulitnya mencari satu titik temu
dalam pemaknaan Agama jika dibiarkan berdiri sendiri. Dan karenanya, akan
ditemukan berbagai permasalahan-permasalahan yang pada dasarnya tidak
subtantif. Maka, biarkanlah ia tetap pada dirinya sendiri, dan jikapun
bersinggungan dengan realitas kemanusiaan, biarkanlah manusia-manusia itu
menjadi bingung.
Kristus
(dalam hal ini Yesus, dan bukan Sang Bapa), bagaimanapun (terlepas dari: Apakah
ia Tuhan atau hanya manusia biasa), telah menunjukkan satu bentuk spiritual
yang sempurna dalam tradisi Kristen. Ia mengilhami ketundukan, kepatuhan, serta
kecintaan yang mendalam terhadap Tuhannya (dan karenanya juga kepada seluruh
makhluk). Begitupun halnya dengan Sang Bapa. Ungkapan ungkapan seperti “Barang
siapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak mengenal Tuhan. Karena Tuhan adalah
Kasih”, menggambarkan dengan jelas betapa besarnya kedua person (Dengan tidak
bermaksud mempersonifikasikan Tuhan) yang merefleksikan suatu bentuk Cinta yang
sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam hal ini, Al-Kitab menjadi mediasi
dalam perpindahan Cinta itu hingga sampai kepada kita saat ini.
Memang
benar bahwa, term-term Cinta dalam tradisi Agama, dipandang sebagai
gagasan-gagasan yang terilhami oleh kemandegan, dan karenanya anti revolusi.
Begitu pun negatifnya cara pandang masyarakat “Beragama” terhadap terma Cinta,
toh dalam kehidupan sehari-hari setiap orang merefleksikan kecintaannya kepada
sesamanya. Jika kita mendengar seorang Gadis menyatakan bahwa ia mencintai Pria
hanya sampai batas tertentu, ini berarti hubungan mereka tidak akan bertahan
lama. Harus dicatat, bahwa Cinta tidak mengenal batasan-batasan yang ditentukan
oleh manusia itu sendiri. Dan karenanya, mencintai seseorang haruslah secara
total(pasti lebih baik mencintai Yang Total dengan KeTotalanNya).
Maka, dalam menyikapi Radikalis dan Liberalis, Agama tanpa Agama perlu
mengambil jalan tengah (Jika masih belum menemukan keyakinan), untuk menyusun
kerangka keyakinan yang nantinya akan dijadikan tolak ukur; kepada siapa ia
harus berpihak. Jika kaum moderat yang begitu picik memaknai moderat sebagai
hanya sekedar jalan Tengah, maka hal ini akan sangat berbahaya dan
mengakibatkan penindasan yang berkelanjutan. Selain itu pun, sebuah
Agama/keyakinan/kepercayaan, adalah sebuah keberpihakan. Maka dalam hal ini,
seseorang dengan “Agama tanpa Agama” haruslah berpihak, setidaknya kepada
realitas yang lebih objektif dan yang pastinya yang paling dekat dengan
nilai-nilai moral ajaran Agama
[1]. Max Weber dalam buku terjemahan Sosiologi Agama, sering menyebut
Agama yang diidentifikasi sebagai Agama Kristen, sebagai “Agama Kongres”.
Menurut penulis, penyebutan yang dipakainya ini, disandarkan pada keputusan
Konsili Nicea ini.
[2]. Yohanes 1:3
[3]. Arius mendasarkan argumennya pada pernyataanPaulus. Pernyataan paulus
ini dikutip dari: Sejarah Tuhan, yang ditulis oleh Karen Armstrong. Hal. 179
[4]. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan. Hal. 180
[5]. Penulis tidak bermaksud untuk memasukkan Karen Armstrong sebagai
Parenialis. Tapi setidaknya, buku yang berjudul Compassion yang dikeluarkan
tahun 2012, adalah sebuah indikasi menuju parenial.
[6]. Karen Armstrong, Compassion. Hal. 85
[7].Imamah 19:18
[8]. Lihat Understanding Islam. Hal. 1
[9]. Meski pernyataannya ini ditujukan untuk Islam. Pluralisme Religius
yang dikembangkan John Hick dalam tradisi ini membenarkan untuk mengakui segala
proposisi spiritual yang dikembangkan dalam agama mana pun.